Source: unsplash.com/Debbie Tea
Perayaan Imlek jadi satu hal yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunya oleh masyarakat Tionghoa. Imlek jadi momen pergantian tahun yang dirayakan dengan penuh sukacita. Banyak aktivitas yang kerap dilakukan, salah satunya adalah menyuguhkan 12 menu makanan ketika berkumpul dengan kelurga besar.
Berkumpul bersama keluarga jadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Tionghoa yang sedang merayakan Imlek. Sembari bercengkerama, mereka biasanya akan mengonsumsi menu-menu tertentu. Menu ini dipilih bukan sembarangan, tetapi punya makna yang mendalam.
Menu apa saja yang biasa disajikan sebagai bagian dari tradisi Imlek?
Yuk, coba cek di bawah!
Siu Mie

Source: pinterest
Menu paling khas ketika Imlek adalah mie. Menunya sederhana, hanya mie goreng yang dimasak bersama berbagai seafood, sayur, dan sebagainya. Namun, ada cerita unik yang berada di balik kesederhaan siu mie.
Siu mie melambangkan harapan agar selalu panjang umur dan rezeki dapat mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, siu mie harus dimakan tanpa diputus atau sampai ujung. Hal ini melambangkan keberkahan yang melimpah pada tahun tersebut. Sedangkan ketika mie putus di tengah proses konsumsi, maka artinya tahun itu penuh akan kerja keras agar kondisi, terutama keungan, tetap stabil. Walaupun hanya mi, siu mie ternyata mengandung filosofi yang begitu baik, dimana seseorang harus bekerja keras untuk mendapatkan rezeki.
Yu Sheng

Source: pinterest/christina yee
Menu berikutnya adalah yu sheng. Pada dasarnya, yu sheng termasuk ke dalam kategori salad karena dibuat dari bahan-bahan mentah. Beberapa komponen yang digunakan ialah sayur, buah-buahan, dan terkadang ditambah seafood, seperti tuna atau salmon. Selanjutnya, yu sheng diberi taburan saus wijen untuk memperkaya rasa. Yu sheng pun punya waktu tersendiri untuk disajikan, yaitu selama lima belas hari, dari awal Imlek sampai Cap Go Meh.
Yu sheng harus disantap secara bersama-sama saat kumpul keluarga. Cara menikmatinya juga unik, lho. Setiap orang dalam meja makan harus memegang sumpit. Kemudian, yu sheng dicampur dan diangkat dengan tinggi menggunakan sumpit sambil mengatakan lao qi atau lao hei. Filosofi dari yu sheng sendiri adalah keberkahan, keberuntungan, kemakmuran yang diharapkan dalam setahun. Semakin tinggi peserta mengangkat sumpitnya, maka semakin dekat juga orang tersebut dengan hidup yang lebih baik.
Sup Delapan Jenis (Eight Treasure Soup)

Source: unsplash.com/keesha's kitchen
Satu lagi budaya Tionghoa yang jadi ciri khas, terutama saat Imlek, yaitu adanya eight treasure soup. Dari namanya sudah dapat diprediksi, ada berapa macam bahan yang digunakan untuk membuat sup ini. Benar, ada 8 bahan yang meliputi protein, jamur, seafood, sayuran, biji-bijian, rebung, kaldu, dan pengental. Semua bahan itu dikreasikan dalam satu mangkuk sup hangat yang lezat.
Mengapa harus delapan? Sebab delapan dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan keberuntungan. Selain itu, setiap bahan yang dimiliki juga punya makna menarik, seperti biji-bijian yang melambangkan harta karun atau seafood yang memberikan simbol kemewahan. Jadi, pemilihan bahan pun turut diperhitungkan, ya, dalam membuat sup ini.
Ikan Tim

Source: unsplash.com/Davis Dai
Wajib ada di meja makan saat Imlek? Tentu saja ikan. Protein hewani ini memang jadi satu kebudayaan sudah begitu melekat bagi masyarakat Tionghoa. Hal ini disebabkan pelafalan ikan dalam Bahasa China (yu) mirip dengan arti kemakmuran. Jadi, adanya ikan ini melambangkan keberuntungan yang terus berlanjut sepanjang tahun.
Ikan yang biasa digunakan adalah bandeng. Tidak perlu dimasak secara rumit, karena ikan hanya dikukus saja atau ditim. Cara mengonsumsinya tidak ada yang special, tapi jangan dihabiskan. Sisa ikan tersebut memberikan simbol bahwa rejeki akan terus datang bahkan di tahun-tahun berikutnya.
Kue Keranjang

Source: pinterest
Makanan paling khas dari Imlek bukan lain adalah kue keranjang atau Nian Guo. Menjelang datangnya Imlek, banyak supplier kue keranjang yang siap memenuhi stok rumah-rumah. Sebab, selain dikonsumsi, kue keranjang merupakan bagian dari elemen ritual ketika sembahyang. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis menjadi representasi dari keharmonisan serta kerekatan keluarga.
Kue keranjang memiliki cerita unik. Konon, kue ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Orang-orang Tongkok dulu membuat sesaji kue dengan bahan ketan dan gula untuk menyogok Dewa Dapur agar memberikan melaporkan hal-hal baik. Orang Tionghoa percaya, bahwa setiap rumah diawasi oleh Dewa Dapur dan setiap tahun aka nada pelaporan tentang keadaan rumah tersebut pada Kiasar Giok.
Jiaozi

Source: unsplash.com/Luna Wang
Pernah makan jiaozi? Dumplings yang satu ini menjadi salah satu menu wajib ketika Imlek datang, khususnya masyarakat dari Tiongkok Utara. Pangsit berbentuk setengah bulan ini dibuat dari dari berbagai bahan isian, seperti daging babi, sapi, ikan, atau iyam dikombinasikan dengan sayuran. Sedangkan bagian kulitnya tipis dan elastis. Biasanya, jiaozi akan disajikan dengan cara dikukus atau dipanggang.
Jiaozi punya makna yang begitu baik, yaitu persatuan dan keharmonisan dalam keluarga. Hal ini dicerminkan dari proses pembuatan pangsit tersebut, dimana seluruh anggota keluarga biasanya akan terlibat. Kemudian, jiaozi juga akan disantap bersama-sama. Maka dari itu, jiaozi harus selalu ada di atas meja saat pergantian tahun.
Lumpia (Chun Juan)

Source: unsplash.com/Eranjan
Lumpia sebenarnya bukan makanan utama. Lumpia termasuk ke dalam snack yang punya isian daging serta sayur mayur, kemudian dibungkus menggunakan kulit yang lebih tipis daripada pangsit. Lumpia berbentuk panjang, digoreng sampai golden brown. Rasanya gurih dan kaya akan tekstur.
Melihat bentuk lumpia, masyarakat Tionghoa mengibaratkannya seperti emas batangan. Dari sana muncul makna yang dipercaya bahwa chun juan mewakili lambang kekayaan serta kemakmuran. Lumpia pun dianggap semabagai simbol keberuntungan dan cinta kasih terhadap sesama.
Ronde (Tang Yuan)

Source: Pinterest/Cooking in Chinglish
Ronde jadi satu jajanan khas yang dijual di pinggir jalan, sering dicari ketika cuaca dingin. Ronde sendiri merupakan bola-bola yang dibuat dari tepung ketan dengan isian kacang atau kosong. Ronde disajikan bersama air jahe dan gula, sehingga rasanya manis berkombinasi dengan tekstur kenyal.
Ronde merupakan salah satu menu yang disuguhkan pada saat Imlek, tepatnya pada Festival Lentera. Makanan ini memiliki makna kebersamaan dalam sebuah keluarga. Dalam bahasa China sendiri, tuan yuan berarti berkumpul atau reuni.
Bakso Kepala Singa (shizi tou)

Source: Pinterest
Namanya begitu dan unik dan tampak menyeramkan, tapi tenang saja akrena bakso kepala siang tidak benar-benar dibuat dari kepala singa sungguhan. Istilah singa digunakan karena ukurannya yang lebih besar daripada bakso biasa. Ada juga pakchoi yang menyerupai rambut, jadi hidangan ini semakin mirip dengan singa.
Bakso kepala singa dengan ukuran jumbonya itu ternyata melambangkan kebersamaan, kekayaan, dan keakmuran. Hidangan ini termasuk istimewa oleh keluarga yang ingin mendapakan kedamaian juga keharmonisan. Tidak ada waktu spesifik untuk menyajikan bakso kepala singa, selain saat tahun baru.
Manisan Segi Delapan (chuen hap)

Source: Pinterest
Imlek rasanya tidak akan lengkap tanpa kehadiran manisan segi delapan. Sesuai labelnya, hidangan ini memiliki delapan bagian yang disekat berjumlah delapan. Setiap bagiannya terdapat berbagai makanan berbeda-beda.
Manisan segi delapan juga disebut tray of togteherness. Angka delapan dalam budaya Tionghoa memiliki arti kebersamaan dan kesempurnaan. Khusus untuk Imlek sendiri, beberapa isian yang sering disajikan antara lain buah kering jeruk, manisan akar teratai, manisan kelapa, bij melon, biji semangka, manisan melon, jahe, kacang pictachio, permen, atau kumquat.
Kue Mangkok (fa gao)

Source: Pinterest/Fa Gao
Selanjutnya, dalam kategori dessert ada kue mangkok yang punya bentuk mekar. Kue mangkok dibuat dari tepung beras dengan variasi warna, tapi seringnya warn merah. Rasanya manis dan teksturnya empuk.
Kue mangkok dengan bentuknya seperti bunga itu mengandung filosofi bagi masyarakat Tionghoa ketika Imlek. Bentuk mekar dari kue ini melambangkan kemakmuran, semakin banyak maka dipercaya semakin makmur orang yang memakannya. Selain disajikan ketika berkumpul keluarga, kue mangkok juga akan dibawa saat sembahyang dengan jumlah ganjil.
Kue Ku

Source: Pinterest
Masih dalam kelompok makanan manis, kue ku turut hadir memeriah setiap kali Imlek tiba. Kue ini berwarna merah, berbentuk seperti tempurung kura-kura, dan punya isian kacang hijau yang dihaluskan. Bagian bawahnya biasanya dilapisi daun atau plastik. Aromanya wangi dan teksturnya kenyal.
Kue ku bagi keturunan Tionghoa kaya akan makna, Pertama, bentuknya seperti kura-kura, mewakili dari harapan panjang umur. Sedangkan warna merah mewakili kegembiraan serta kebehagiaan. Kue ku pun merupakan simbol dari keberuntungan, keuletan, dan kekuatan.
Nah, itu dia 12 menu yang biasanya disajikan ketika Imlek tiba. Mungkin beberapa sudah Anda ketahui, ada juga beberapa yang tampak baru di telinga. Jelasnya, setiap hidangan punya harapan masing-masing yang begitu tulus untuk kehidupan tahun mendatang.
Comments:
Leave a Reply