source: magnific.com
Jepang adalah salah satu negara yang sering dijadikan destinasi wisata favorit. Jepang dikenal dengan nilai budaya luhurnya, tercermin dari aneka ragam bentuk, seperti interaksi, dekorasi, serta lingkungan di kanan kirinya. Kuliner menjadi topik menarik di dalamnya. Masyarakat Jepang tidak hanya menciptakan berbagai hidangan lezat, tetapi memasukan unsur kebudayaan. Hal itu mampu memberikan sentuhan berbeda, mengundang tanda tanya bagi orang-orang. Kuliner Jepang pun akhirnya diadopsi oleh banyak negara. Anda mungkin sudah tidak asing dengan sejumlah makanan khas Jepang yang akhirnya bisa ditemui di sekitar.
source: pexels.com/Jonathan BorbaKuliner pertama yang akan dirembug ialah sushi. Siapa yang tidak kenal makanan ini? Salah satu hidangan populer dari Jepang dan saat ini hampir bisa dinikmati dimana saja. Namun, Anda perlu tahu bahwa sushi memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat Jepang. Sushi bukan sekadar makanan, tetapi bagaimana cara menghargai bahan makanan yang masih segar. Dulu, sushi memang hidangan yang disajikan antara ikan fermentasi dan nasi. Seiring berjalannya waktu, sushi mulai mengalami pergeseran dengan mengganti ikan fermentasi menggunakan ikan segar. Pembuatan sushi memang kelihatan mudah, tapi bagi masyarakat Jepang, sushi memadukan beberapa kemampuan, antara teknik, intuisi, dan visual. Sushi memperhatikan harmonisasi warna, rasa, serta tekstur dalam satu suapan. Sushi bisa dimakan menggunakan tangan langsung atau sumpit bersama soyu dan wasabi.
source: pexels.com/Han SenSetelah sushi, Anda tentu mengenal mochi. Kuliner ini termasuk dessert yang punya tekstur kenyal dan hint manis gurih di setiap gigitannya. Sekarang, mochi sudah lebih dikenal, bahkan telah dimodifikasi menjadi dengan berbagai isian. Walaupun begitu, nyatanya mochi adalah kuliner tradisional yang sudah ada sejak periode Jomon, sekitar 14.000-300 sebelum masehi. Mochi terbuat dari mochigome atau ketan yang awalnya memang diperkenalkan oleh bangsa Tiongkok. Mochi pernah jadi hidangan para bangsawan yang dihidangkan ketika terjadi perayaan. Kemudian, sampai akhirnya mochi dibawa oleh masyarakat sebagai makanan pokok. Kuliner kenyal ini bahkan pernah dijadikan sebagai bekal praktis para prajurit perang. Makanan ini dibuat dengan cara memasak ketan dan menumbuknya. Proses pembuatannya disebut mochitsuki. Mochi sering hadir di momen-momen penting, misalnya Tahun Baru. Beberapa mochi tradisional Jepang yang sekarang masih populer diantaranya daifuku mochi, warabi mochi, kagami mochi, sakura mochi, hishimochi, kashiwa mochi, dan kinako mochi.
source: pexels.com/Amar PreciadoPerlu Anda ketahui, sebenarnya ramen bukanlah berasal dari Jepang. Awalnya, ramen dibawa oleh para warga Tiongkok ke kawasan Yokohama dengan nama shina soba atau chuka soba. Saat itu, ramen memang belum semasif sekarang. Ramen mulai terkenal pasca Perang Dunia II. Tekstur kenyal dan lembut itu dengan mudah masuk ke lidah masyarakat lokal Jepang, sehingga pada tahun 1940-an, warung-warung ramen mulai ramai dibuka di sekitar Yokohama. Ramen memiliki 4 gaya yang berbeda yang dirasakan dari miso, garam, saus kecap, dan terkhusus satu disebut tonkotsu atau kaldu tulang babi. Masing-masing daerah punya rasa yang khas, disesuaikan kebudayaan setempat. Selain menunjukan budaya lewat rasa, ramen pun punya tata cara unik untuk mengonsumsi. Ramen termasuk ke dalam menu cepat saji di Jepang, oleh karena itu, banyak kedai ramen hanya menyediakan tempat kecil untuk para pelanggan, tujuannya yaitu setelah makan, pelanggan bisa segera pergi. Bagi warga Jepang, makan ramen terlalu lama tidak sopan. Lalu, jika Anda mendengar orang menyeruput ramen sangat keras, itu tidak masalah. Menyeruput mie di Jepang artinya menghargai makanan tersebut dan memberikan tanda bahwa rasanya enak. Anda bisa mencobanya sesekali, meskipun mungkin tidak sempurna. Selanjutnya, ramen biasanya akan ditulis apa adanya, singkat, dan terkadang pilihan toping terpisah. Jangan heran, sebab prinsip makan ramen memang begitu.
Tiga kuliner khas Jepang di atas sudah bisa Anda jumpai dimana saja, termasuk Indonesia. Beberapa orang mengadopsi lalu memodifikasinya, menyesuaikan dengan lidah dimana tempat makan itu dibuka. Walaupun demikian, di Jepang, baik suhi, mochi, dan ramen masih tetap dipertahankan nilai kebudayaan. Kuliner tradisional bercita rasa otentik masih dapat dinikmati. Anda bisa mencobanya sendiri saat mampir ke Jepang.
Baca juga: Cara Hilangkan Rasa Suka Dengan Cepat dan Ampuh!
Author: Asvi
Comments:
Leave a Reply