Saat mendengar nama Banda Neira, bisa terbayang rempah-rempah pala yang menjadi komoditas utama area itu. Keindahan alam yang selalu diagung-agungkan pun tak luput dari angan. Banda Neira bisa dikatakan sebagai wujud surga dunia yang akan sayang ketika dilewatkan. Di sisi lain, Banda Neira juga dikenal akan sejarahnya yang begitu panjang. Menjadi pemasok rempah-rempah di kawasan Timur Tengah pada masa lalu, menarik minat bangsa lain untuk mencari jalan menuju sumbernya. Dimulai dari Bangsa Portugis yang telah menancapkan puing-puing penanda, kemudian disusul oleh Belanda yang membesarkan proyek monopoli pala di Kepulauan Banda. Jejak-jejak kedatangan bangsa pendatang masih dapat disaksikan dengan kedua mata, terutama pada bangunan yang kini masih dipelihara sebagai objek penting dan pariwisata.
Jika Anda nantinya berkesempatan mampir ke Banda Neira, jangan lupa untuk mampir ke salah satu situs penuh kisah, Benteng Nassau. Berbicara soal situs benteng di Benteng Neira, mungkin Benteng Belgica jadi yang paling disebut karena punya bentuk yang unik dan orang bisa naik ke atas untuk menikmati keindahan alam Kepulauan Banda. Namun, sebelum dibangunnya benteng itu, sudah ada pendahulunya yang lebih dulu kokoh berdiri. Sekarang, Benteng Nassau nampak seperti bangunan kuno yang telah berlumut, berbeda dengan kisah lampau yang penuh tragedi tak terlupa.
Benteng Nassau dicap sebagai benteng pertama yang dibangun oleh Belanda ketika sampai ke Pulau Maluku. Sejak terjadi kelangkaan rempah-rempah di jalur perdagangan Timur Tengah, bangsa lain, khususnya Eropa, memang berbondong-bondong datang mencari jalan baru. Sebelumnya, Portugis telah lebih dulu sampai. Bangsa Portugis pun membangun benteng sederhana dari kayu di tepi pantai untuk mengawasi proses produksi pala. Tak berselang lama, Belanda datang dan menyingkirkan Portugis. Bekas benteng kayu itu lalu diubah jadi benteng yang lebih besar dan kokoh. Benteng Nassau pun masih bisa dikunjungi oleh wisatawan hingga kini.
source: tripadvisor.com/GeorgeMulderKisah Benteng Nassau penuh dengan penolakan. Mengutip dari halaman Kompas, dijelaskan bahwa sebelumnya ketika Portugis membangun benteng sederhana memang sempat ditolak, sehingga tidak dapat dirampungkan. Hanya saja, Belanda nekad meneruskan pembangunan dengan dalih membuat pertahanan dari bangsa lain. Padahal, Benteng Nassau yang dibangun pada tahun 1607 oleh VOC ini difungsikan untuk mengontrol monopoli perkebunan pa yang sudah dibentuknya di Kepulauan Banda.
Banda Neira yang indah, dipuja punya surga bawah laut luar biasa, alam yang lebat, dan budaya beragam, ternyata tumbuh bersama tragedi mengerikan. Berselang dari penolakan pembangunan Benteng Nassau, nyatanya tidak menggentarkan niat mendirikan sebuah benteng. Masyarakat Banda yang telah mulai resah ingin melawan, tetapi mereka tidak mampu karena minimnya peralatan. Hingga akhirnya, disepakati untuk meminta tolong pada kaum pamuka di Banda Neira, yang disebut orang kaya. Para orang kaya yang ditunjuk membuat janji temu perundingan agar kedua belah pihak bisa sama-sama mencari jalan tengah. Pertemuan itu berakhir dengan penyerangan yang menewaskan Laksamana Verhoeven, Jenderal VOC saat itu, dan banyak orang lainnya. Kabar itupun seger merebak ke banyak tempat, terutama koloni VOC.
Tahun 1621, saat VOC dipegang oleh Jan Pieterszoon Coen, tragedi itu terjadi. Jenderal Coen merupakan ahli tulis Laksamana Verhoeven yang berhasil melarikan diri ketika penyerangan. Tidak segan-segan, jenderal VOC itu mengeksekusi sekitar 44 orang kaya dan ribuan rakyat Banda. Sejumlah 44 orang dieksekusi oleh VOC dengan memperkerjakan samurai Jepang. Kejadian kelam ini terus merentet hingga populasi Kepulauan Banda mnyusut, yang awalnya berkisar 14.000-15.000 jiwa, menjadi kurang dari 1.000 jiwa. Dari mereka yang selamat, akhirnya memilih kabur dan melanjutkan hidup di tempat lain. Hal ini menyebabkan tatanan masyarakat Banda berubah akibat pengusiran dari tanah kelahiran sendiri.
Benteng Nassau pada era pungkasan ditinggalkan juga setelah berdirinya Benteng Belgica. Alasan lainnya yaitu benteng ini nyatanya tidak sekokoh itu. Struktur bangunannya rusak saat terserang bencana alam dan cuaca ekstrem. Penyerangan Inggris di abad ke-19 pun memperburuk kerusakan. Benteng Nassau masih bisa ditemukan, menjadi objek sejarah yang kelihatan cantik di tepi pantai berpasir putih. Kompleksnya berbentuk segi empat dan ada bagian yang sudah runtuh total, sehingga hanya tinggal setengah. Benteng Nassau jadi bagian perjalanan masyarakat Kepulauan Banda, meskipun dilingkupi peristiwa mengerikan dan tragedi pemusnahan masal. Benteng Nassau mewakili simbol dari keserakahan untuk menguasai hak orang lain sekaligus bukti dar tekad yang bulat dalam membela diri. Benteng Nassau sekarang telah beralih fungsi, dibuka sebagai pariwisata, pengkajian ilmu pengetahuan, atau penelitian.
source: malukupost.comDi antara keindahan Banda Neira, ada secuwil kisah yang terlampau menghitam. Kisah tragis yang mengubah tatanan masyarakat Banda sampai sekarang. Namun, sekarang kawasan ini telah bebas, telah mendapatkan kembali haknya untuk melanjutkan keselarasan hidup. Banda Neira dikenal dengan panorama mengagumkan serta cerita perjuangan yang tidak bisa terlupa.
Baca juga: Langkah Mudah buat Keripik Kaca ala Rumahan
Author: Asvi
Comments:
Leave a Reply