Kenali Tanda-tanda Burnout, Atasi Lebih Dini Sebelum Jadi Parah!


Source: unsplash.com/Nubelson Fernandes

Rasa lelah memang akan terjadi pada siapa saja. Namun, jika lelah ini berkepanjangan, maka mungkin Anda tengah mengalami burnout. Di era yang serba cepat dan maju, terkadang seseorang bisa merasa kewalahan, berkecamuk, hingga akhirnya bisa jadi stres sendiri.

Burnout merupakan kondisi ketika rasa lelah baik fisik maupun mental. Seseorang yang mengalami hal ini pun akan disertai penurunan motivasi dalam bekerja. Mereka lebih cenderung melakukan sikap negative baik untuk diri sendiri maupun orang lain, misalnya bermalas-malasan, menyalahkan diri sendiri, sampai depresi.

Burnout sendiri memiliki beberapa fase yang bisa dilewati. Dari yang awalnya menggebu-gebu atau honeymoon, perlahan-lahan muncul stress yang memicu masalah-masalah kecil hingga besar. Seseorang akan sampai ke titik jenuh karena kondisi stress sudah sangat kompleks. Pada posisi tersebut, orang bisa saja hilang arah. Lebih lanjut, barulah masa burnout itu datang, saat fisik dan mental benar-benar tidak bisa diajak kerja sama, ritme bekerja pun bisa rusak karena rasa tertekan, malas, juga kehilangan motivasi melakukan aktivitas. Terakhir adalah habitual burnout, ketika orang sudah merasa ‘biasa saja’ mengalami burnout.

Masalahnya, jika kondisi burnout sudah parah akan berbahaya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, terkadang seseorang tidak sadar tengah merasakan burnout, sehingga ketika dibiarkan berlarut-larut justru akan dianggap sebagai hal biasa yang memang sudah sering terjadi. Oleh karena itu, tetap mengamati orang di sekitar dapat membantu mereka dalam menyadari adanya burnout atau tidak.

Cari tahu ciri-ciri burnout untuk mewaspadai berkelanjutan!

Selalu Merasa Lelah Setiap Hari

Source: unsplash.com/Ephraim Mayrena

Ciri pertama dari seorang yang sedang burnout adalah merasa lelah. Perasaan lelah ini cenderung ke ekstrem karena memengaruhi gerak tubuh, fleksibilites, dan motivasi untuk segera bangun dari tempat peraduan. Seolah tenaga yang ada pada tubuh sudah habis tak bersisa untuk melakukan aktivitas.

Jika diperhatikan, seseorang yang mengalami burnout akan tampak tidak bersemangat. Mereka terlihat lesu tidak bertenaga. Berkegiatan juga hanya sekenanya saja, tidak memiliki ambisi untuk menyelesaikan. Belum lagi wajahnya kelihatan pucat.

Aktivitas menjadi terganggu karena adanya kelelahan. Penyebabnya tentu saja adalah stress serta tekanan berlebih yang ada dalam benak. Padahal, jam istirahatnya sudah cukup atau bahkan lebih, tapi rasa lelah itu pun tak kunjung pergi.

Merasa Tidak Berguna di Lingkungan

Source: unsplash.com/Jackson Simmer

Ciri selanjutnya berkaitan dengan adanya burnout adalah merasa tidak berguna. Rasa ini muncul ketika seseorang menganggap apa yang diperbuatnya seolah tidak berarti. Apa yang telah dihasilkan bak tidak pernah memenuhi target yang telah ditentukan sejak awal.

Akibat dari pransangka tersebut, terkadang orang akan merasa putus asa. Tidak jarang mereka akan menyalahkan diri sendiri, berimbas pada produktivitas yang terus menurun. Akhirnya, hal tersebut bisa menjadi kenyataan, dimana kinerja seseorang akan mengalami titik rendah.

Membenci Pekerjaan dan Demotivasi

Source: unsplash.com/Vitaly Gariev

Orang yang mengalami ketidakpuasan dalam bekerja disebabkan oleh banyak factor. Bila dilakukan secara berulang, maka tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan membenci pekerjaan mereka. Sampai akhirnya, berakibat fatal pada output yang diberikan.

Tidak jarang pun bahwa ciri-ciri ini disertai dengan penyakit fisik. Kehilangan motivasi bekerja, memberikan dampak yang signifikan pada kesehatan fisik seseorang. Intensitas tidak sadar karena berkesinambungan, minat pada pekerjaan yang ditekuni mulai menurun dan hilang.

Orang akan malas untuk datang ke tempat kerja, mengulur waktu deadline, dan menggunakan alasan yang berkaitan dengan fisik agar tidak melakukan pekerjaan tersebut. Hasil pekerjaan juga tidak sempurna, butuh banyak perbaikan, atau yang lain. Sebisa mungkin, mereka akan menghindar, sebab pekerjaan adalah momok menakutkan.

Mulai Munculnya Penyakit Fisik yang Menghambat

Source: unsplash.com/Cody Metcalf

Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat, Herbert Freudenberger pada tahun 1974, tentang seseorang yang akan mengalami gangguan fisik ketika sedng mengalami burnout. Paling sering adalah sakit kepala yang akan mengganggu aktivitas. Hasil akhirnya adalah kesulitan untuk tidur dan kehilangan waktu istirahat yang maksimal. Selain itu, orang yang burnout akan mengalami sakit pinggang.

Seseorang yang burnout akan merasa lifeless. Seperti kehilangan arah hidup, sebab tidak mampu mengendalikan perasaan putus asa. Merasa tidak berguna, merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi, yang sebenarnya hanya menggerogoti perasaan dalam hati. Dampaknya bukan hanya pada mental, tapi berpengaaruh ke fisik.

Depresi Setelah Semua Kondisi yang Kian Memburuk

Source: unsplash.com/Sydney Latham

Akibat perasaan yang selalu insecure dan terus berpikiran negative, tidak menutup kemungkinan orang yang burnout akan mengalami masa depresi. Secara umum, seseorang yang tengah depresi akan menjadi lebih murung dan tertutup. Mereka cenderung enggan untuk bersosialisasi dan merasa jadi beban bagi masyarakat.

Depresi sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang burnout. Setiap orang punya trigger untuk merasa tertekan dan saat berlarut akan menjadi hal yang lebih parah. Salah satunya yaitu depresi berkepanjangan dan tidak ditangani secara benar dapat menetap dalam waktu yang lama.

Setiap orang berpotensi mengalami burnout. Adanya tekanan setiap hari menyebabkan mental dan fisik jadi tertekan. Keadaan yang buruk ini bisa menjadi sesuatu yang serius kalau tidak ditangani secara dinin dan tepat.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menangani burnout. Sebelum semakin parah, Anda bisa menyadari atau mengajak diri bergerak keluar dari zona yang kelam. Hal-hal sederhana di bawah ini dapat jadi referensi yang bermanfaat.

Pertama, Anda dapat melakukan evaluasi diri. Salah satu cara paling mudah adalah berbicara dengan orang lain. Misal berdikusi tentang perihal masalah, target, atau topic lain yang bisa membuat diri jauh lebih baik tanpa harus merasa tidak berguna.

Selanjutnya, Anda bisa mencari dukungan dari orang sekitar. Tanpa disadari pengakuan dan rasa cinta dari orang-orang dapat membuat perasaan jauh lebih nyaman. Anda bisa mendapatkan kekuatan dari dukungan yang diterima. Setelah itu, Anda bisa membalas dukungan tersebut dengan hal yang sama untuk saling menguatkan.

Berikutnya, keluarlah sebentar dari zona nyaman. Lakukan kegiatan yang menyenangkan. Buat pikiran lebih tenang dengan mengupayakan agenda-agenda tertentu. Sebut saja liburan, nonton drama, yoga, meditasi, dan lain-lain. Buatlah perasaan lebih lega agar dapat menyambut hari yang baru.

Terakhir adalah istirahat yang cukup. Tanpa sadar, istirahat dengan waktu terbatas dapat menimbulkan berbagai perkara fisik, seperti asam lambung, stress berlebih, bahkan obesitas. Oleh karena itu, istirahatlah sesuai porsi pada malam hari. Sebab malam menjadi waktu yang krusial, dimana kerja organ menurun dan otak pun harus mengambil jeda. Sedangkan tidur siang tidak akan mengganti waktu malam yang terbuang sia-sia, sebab memang disarankan melakukan kegiatan itu, tapi durasinya singkat saja.

Jangan anggap sepele tentang burnout. Kita harus mulai sadar dengan setiap kondisi diri sendiri maupun orang lain. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum semakin jauh atau buruk, burnout masih bisa ditangani menggunakan tindkan-tindakan sederhana.

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...