STARGLAM

Slow Bar Coffee, Konsep Ngopi Sederhana tapi Mindful


source: pinterest.com/Rendito Aulia


Kedai kopi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern era sekarang. Hampir di setiap daerah, setidaknya terdapat satu atau dua kedai kopi, tempat dimana orang-orang memulai hari atau bersiap untuk menutup hari. Kedai kopi bukan hanya tempat singgah minum kopi, melainkan wadah alternatif bagi mereka yang ingin saling bertemu, terhubung, dan berbicara tanpa adanya rasa canggung. 

Budaya minum kopi mulai dipopulerkan di kawasan Eropa, seperti di negara Italia, Perancis, dan Spanyol. Lalu akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kedai kopi bukan sekadar bisnis yang dibangun untuk menyediakan fasilitas pada masyarakat, tetapi wujud dari budaya di lingkungan tempat itu dibangun. Misalnya di Italia yang kedai kopinya tidak banyak memiliki kursi. Konsep itu diambil karena orang-orang Italia tidak suka menghabiskan banyak waktu untuk minum kopi. Setelah memesan, membayar, dan kopi datang, mereka akan langsung meminumnya. Namun, mereka tetap terhubung dengan memanfaatkan sela-sela waktu saat menunggu giliran atau menghabiskan satu shot espresso. Di Indonesia pun kedai kopi dengan konsep komersil cepat mulai menjamur, bedanya pegiat fnb di sini menyediakan fasilitas tambahan, seperti kursi, meja, dan koneksi internet agar pelanggan nyaman. 

Semakin berkembangnya inovasi bisnis kopi-kopian, mulai muncul istilah slow bar coffee. Konsep ini bisa dibilang baru. Di tengah gempuran kedai kopi yang mengandalkan kecepatan dan kenyamanan pelanggan, slow bar hadir bak penenang di antara dinamika kehidupan yang cepat. Mengutip dari Otten, bentuk bisnis ini sempat dipandang sebelah mata, seba ditakutkan tidak dapat bersaing dengan industri kopi yang sudah punya fondasi kuat. Namun, faktanya kini slow bar semakin diminati, apalagi dengan majunya teknologi media sosial yang mampu menyebarkan informasi secara cepat.

source: pexels.com/Michael Burrows

Slow bar berasal dari dua kata Bahasa Inggris, slow yang artinya lambat dan bar merujuk pada sebuah tempat atau meja. Konsep slow bar coffee tercatat diperkenalkan pertama kali oleh Tim Endelboe dari Norwegia pada tahun 2002 silam. Aturan main pada slow bar tidaklah rumit, yaitu menggabungkan antara ngopi dan diskusi dalam ruang yang tidak terburu-buru, sesuai namanya. Jadi, sembari dibuatkan kopi atau menikmati kopi, interaksi yang terjadi antara orang-orang di tempat itu jauh lebih intens, tidak tergesa, dan santai. 

Kedai kopi yang mengusung konsep slow bar coffee biasanya tidak memiliki tempat yang terlalu luas, tetapi tetap nyaman disambangi oleh pelanggan. Di slow bar coffee, akan jarang sekali ditemukan orang bekerja (meskipun satu dua pasti ada yang tiba-tiba membawa setumpuk dokumen, laptop, dan sebagainya). Orang-orang yang datang ke slow bar coffee biasanya lebih suka menunggu proses pembuatan kopi sembari mengobrol atau membangun relasi baru dengan pelanggan lain yang sama-sama menunggu dilayani. Beberapa tempat bahkan sengaja tidak memasang koneksi internet agar lebih khusyuk menikmati waktu bersantai sambil menyesap kopi. 

Menu di kedai kopi slow bar tidak neko-neko, hanya berupa manual brew, seperti filter, atau espresso saja. Manual brew kerap kali menawarkan beans dengan aneka ragam karakteristik rasa, entah mau arabika, robusta, ataupun liberika. Dari sana, biasanya muncul pertanyaan dan menciptakan obrolan yang terus mengalir, minimal tentang kopi yang akan diminum hari itu. Pelanggan akan dilayani satu-satu, bisanya memang membutuhkan lebih banyak waktu. Beberapa slow bar meminimalisirnya dengan membatasi jumlah pelanggan yang datang, contohnya Klinik Kopi yang ada di Yogyakarta, agar intensitas pelayanan antara barista dan pelanggan bisa berlangsung maksimal, sang pemilik hanya memberikan 20 kuota per hari dengan masing-masing rentang waktu 30 menit, tanpa ada reservasi atau pemesanan terlebih dahulu. Cara seperti itu lalu diadopsi oleh kedai-kedai slow bar lain.

source: pexels.com/Michael Burrows

Trend slow bar terkadang bisa juga dikaitkan dengan kehidupan slow living yang baru-baru ini semakin santer diomongkan. Gaya hidup slow living mengedepankan proses kehidupan yang yang lebih bermakna, tidak terburu-buru, dan menjaga keseimbangan fisik juga mental. Orang-orang dengan konsep slow living punya cara sendiri dalam menikmati setiap momen yang terjadi dalam hidup. Orang-orang ini tidak banyak menuntut, menganggap hidup bukan hanya tentang materi, serta tempo perlahan tanpa berdesak-desakan. Konsep tersebut sangat sesuai dengan slow bar coffee, dimana minum kopi tidak hanya sebagai kebutuhan, tetapi media untuk mencari ketenangan setelah melawan hiruk pikuk duniawi. Namun, itu bisa jadi merupakan perasaan atau asumsi belaka terkait dua konsep tersebut. 

Slow bar coffee memang budaya baru yang sempat dianggap pesimis karena dikhawatirkan tidak dapat bersaing dengan kedai komersil fast bar. Faktanya, sekarang slow bar coffee semakin banyak, bahkan keberadaannya sudah sering dijumpai di berbagai tempat. Slow bar coffee menawarkan sisi lain dari kegiatan minum kopi yang lebih mendalam, media antar manusia dalam menjajaki kehidupan, serta ruang diskusi tak terbatas untuk membicarakan banyak hal.

Baca juga: Sering Keliru? Berikut Urutan Tepat Menggunakan Hair Mask!

Author: Asvi

Comments:

Leave a Reply

you may also like