3 Film Horror Korea yang Membekas, Urban Legend yang Tampak Nyata!


source: pinterest.com/Yu Kos


Film ‘Salmokji: Whispering Water’ baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Film horror dari Korea Selatan kini tengah tayang di beberapa bioskop internasional, termasuk Indonesia. Diskursus tentang ‘Salmokji’ inipun meluas dengan cepat, bahkan berulang kali menjadi pembahasan di media karena diangkat dari urban legend waduk angker Salmokji, dimana waduk ini dieceritaakan kerap kali menelan korban jiwa setelah jam 10 malam. Konon katanya, dalam proses penggarapan juga banyak terjadi kejadian mistis yang menjadi daya tarik tersendiri, sehingga mampu dikulik lebih jauh.

Sebelum Salmokji mengudara, Korea Selatan pernah melahirkan beberapa judul horror lain yang diambil dari urban legend dan langsung jadi perhatian masyarakat. Walaupun tidak ditayangkan lagi di bioskop, deretan judul ini masih bisa ditonton melalui OTT tertentu. Anda mungkin tertarik untuk menontonnya di akhir pekan ini.

Baca juga: Makin Stylish Dengan Inspirasi Outfit Cheer Up Untuk Remaja Berikut!

Cek selengkapnya di bawah!

A Tale of Two Sisters (2003)


source: pinterest.com/Ben

Judul pertama yang sampai sekarang masih kerap dibahas di kalangan pecinta horror-thriller adalah ‘A Tale of Two Sisters.’ Film ini berhasil membalut cerita drama menjadi lebih menyeramkan. Bukan hanya tenteng jumpscare, ‘A Tale of Two Sisters’ memberikan tekanan psikologis yang membuat penontonnya sering kali merasa tidak nyaman, tapi tidak bisa meninggalkan setiap menit dari film tersebut.

‘A Tale of Two Sisters’ diambil dari cerita rakyat dari zaman Dinasti Joseon, ‘Janghwa Hongryeon.’ Kisah ini terjadi pada sebuah keluarga Bae Muryong di Chul San-gun. Muryong adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki seorang istri bernama, Jang. Mereka dikarunia dua putri yang kemudian diberi nama Janghwa dan Hongryeong.

Kehidupan mereka memang bahagia, tapi di lubuk hati terdalam, Muryong menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan garis keturunannya. Setelah istrinya berpulang tanpa sempat melahirkan anak laki-laki, Muryong memutuskan menikah lagi. Dalam pernikahan itu, ia memang dikaruniai 3 orang putra, tapi justru jadi mimpi buruk untuk putri-putrinya. Ibu tiri yang semula bersikap baik itu akhirnya menunjukkan wajah aslinya dengann memberikan siksaan pada Janghwa dan Hongryeong, bahkan sampai dewasa.

Ketika Janghwa memutuskan untuk menikah dengan calon suaminya, si ibu tiri merasa tidak terima. Ia takut jika pernikahan itu akan mengurangi bagian harta yang seharusnya digunakan untuk masa depan ketiga putranya. Oleh karena itu, si ibu tiri merencanakan sebuah cerita fiktif, dimana Janghwa dituduh sebagai perempuan tidak suci. Cerita itu disebarkan kepada warga desa secara masif. Janghwa pun ditenggelamkan ke danau oleh anak sulung ibu tirinya hingga tewas. Hal ini juga dilakukan oleh Hongryeong karena kemarahannya.

Berangkat dari kisah ‘Janghwa Hongryeon,’ sutradara Kim Jeewon menggarap ‘A Tale of Sisters’ secara lebih emosional. Kisah dua saudari, Sumi dan Suyeon, menjadi highlight yang tragis sekaligus mengerikan. Kisah mereka yang selalu disiksa oleh ibu tiri mereka membakas hingga memberikan trauma mendalam. Namun, dalam film ini, ibu tiri tidak menginginkan harta saja, tetapi ambisinya ingin menjadi satu-satunya perempuan di rumah itu dan menguasai segalanya.

The Wailing (2016)


source: pinterest.com/Chris Kabayel

Film horror ternyata bisa juga disajikan melalui suguhan yang diam, perlahan, tapi mencekam. Vibes seperti itu bisa Anda dapatkan ketika menonton ‘The Wailing.’ Film ini pernah meraih award dalam Baeksang Art Awards melalui kategori Best Film. Bagi pecinta horror, ‘The Wailing’ memang tidak menampilkan jumpscare, tapi tensi psikis yang diberikan begitu tinggi. Anda mungkin bisa jadi bingung, ngeri, atau bahkan terheran-heran dengan deretan peristiwa yang terjadi pada ‘The Wailing.’

‘The Wailing’ sendiri tumbuh berdasarkan kebudayaan masyarakat Korea yang tinggal di pedesaan. Hal ini merujuk pada kepercayaan masyarakat desa yang masih melakukan praktik perdukunan atau shaman. Selain itu, adanya konflik sejarah di masa lalu kian jadi provokasi dalam film yang rilis satu dekade silam. ‘The Waling’ benar-benar dibungkus dengan kuat melalui ketakutan, ketidkpercayaan, dan kengerian yang sempurna.

Baca juga: Istilah Gaslighting Yang Punya Dampak Buruk Terhadap Kesehatan Mental

Na Hongjin sebagai sutradara menggarap cerita ‘The Wailing’ dengan memberikan relevansi di kehidupan saat itu. Kasus-kasus warga tewas secara tidak wajar semakin menjadi di Desa Geoksung. Satu kasus terakhir terjadi sangat mengerikan, dimana korban sebelum meregang nyawa seperti mendapatkan siksaan. Rumah-rumah berlumuran darah, tampak gelap dan mengerikan. Seorang polisi yang tidak percaya klenik pun memulai penyelidikan kasus itu. Satu tersangka yang sangat mengundang curiga adalah sesosok laki-laki misterius asal Jepang yang hidup sendiri di hutan.

Polisi itu menemukan banyak hal, tapi tetap tidak mampu jika harus membenturkan akan akal sehat serta agenda-agenda tidak bernalar. Sampai akhirnya, putri si polisi diduga mengalami kerasukan setelah melakukan berbagai hal janggal. Orang tuanya yang khawatir akhirnya melakukan exorcism, sedangkan polisi itu juga meminta bantuan pada gereja di sana. Namun, jawaban yang pasti tetap tidak ditemukannya.

Gonjiam: Haunted Asylum (2018)


source: pinterest.com/Night Moon Night

Sepertinya, cerita tentang rumah sakit angker sudah menjadi bagian dari urban legend di seluruh dunia. Di Korea Selatan, Rumah Sakit Gonjiam adalah salah satu objek yang ditakuti oleh banyak orang. Namun, anehnya, kisah dari rumah sakit ini mudah sekali menarik perhatian bagi pecinta horror. Di tahun 2018, terdapat film yang mengadaptasi kisah ini dengan judul ‘Gonjiam: Haunted Asylum.’ Kabarnya, film ini juga akan segera dibuat ulang versi Indonesia.

Rumah Sakit Gonjiam atau Gonjiam Psychiatric Hospital adalah rumah sakit terkenal yang menangani pasien dengan gangguan jiwa. Berdiri di perbukitan Provinsi Gyeongg-do, rumah sakit ini mendapatkan reputasi yang baik di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit ini pun menerima pasien tentara yang depresi pasca perang.

Aktivitas Rumah Sakit Gonjiam tampak berjalan biasa saja. Namun, pada perjalanannya, rumah sakit ini harus tutup karena sebuah kasus misterius. Menurut cerita yang beredar, banyak pasien dan karyawan yang tewas di rumah sakit ini secara tidak wajar. Alasannya sampai sekarang tidak diketahui, entah karena gagalnya pengalolaan limbah, kemerosotan ekonim, bahkan adanya eksperimen dokter gila. Para korbannya datang tewa secara tidak teratur, baik di ruangan sendiri-sendiri, di depan meja, dan lain-lain.

Rumah Sakit Gonjiam mulai ditinggalkan sejak tahun 1995. Pemiliknya kabur ketika pemerintah mencoba menyelidiki kasus yang terjadi di rumah sakit ini. Rumor-rumor menyeramkan tersebar, seiring rusak dan terbengkalainya rumah sakit ini. Kesan menakutkan mulai menyebar. Namun, anehnya ratusan turis bisa datang kemari untuk merasakan uji nyali. Banyak di antara mereka mengaku bahwa mengalami kejadian tidak nalar, seperti melihat sosok-sosok tertentu dan mendengar suara-suara aneh.

Di tahun 2018, kisah rumah sakit ini diadaptasi jadi sebuah film horror. Mengambil set rumah sakit yang sudah tidak terpakai, sekelompok remaja ingin merekam berbagai aktivitas supranatural untuk mendapatkan satu juta pengikut melalui social media. Mereka pun mulai beraksi dengan memasak sejumlah kamera, termasuk kamera yang dibawa oleh masing-masing anggota untuk merekam ekspresi secara nyata. Ternyata apa yang mereka idam-idamkan justru menjadi malapetaka. Suasana mengerikan, ketegangan, dan gelap yang diciptakan oleh Jeong Beomsik selaku sutradara berhasil menghipnotis ratus ribuan penonton.

Nah, itu dia beberapa film rekomendasi yang diambil dari urban legend Korea Selatan yang menarik untuk disaksikan akhir pekan ini. Anda bisa menontonnya secara terpisah atau marathon. Siapkan camilan dan nyali besar agar film-film ini dapat tamat dengan sempurna.

Baca juga: Punya Hobi Koleksi Barang? Ternyata Memiliki Manfaat Baik Bagi Kesehatan Mental

Author: Asvi

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...