STARGLAM

Kelebihan Backpacker, Traveling dengan Budget Terbatas


source: pinterest.com/Jatin Meta


Pernahkah Anda mendengar istilah backpacker? Atau justru sudah merencakan liburan dengan cara tersebut?

Backpacker pada dasarnya adalah mereka yang melakukan perjalanan liburan dengan budget terbatas, barang bawaan tidak terlalu banyak, dan bebas mengatur perjalanan mereka sendiri. Melancong dengan gaya seperti ini memang cukup menantang nyali, apalagi ketika dilakukan seorang diri. Berbeda ketika seseorang yang berlibur dengan mengikuti trip atau memilih fasilitas terbaik, opsi bijak backpacker bisa jadi hanya sekadar nyaman atau yang penting ada. Istilah inipun mengacu pada penggunaan backpack, mengindikasikan bahwa pelancong tidak membawa barang yang banyak, cukup dimasukan ke dalam tas ransel saja. Namun, kenyataannya banyak orang yang berminat liburan dengan cara backpacker-an. Aktivitas tersebut dianggap lebih seru, dibandingkan mengikuti itinerary dari sebuah trip. Walaupun, kadang-kadang orang merasa takut, asing, atau tidak percaya diri menjajakan lengkah di tempat baru tanpa pemandu. Di samping itu, backpacker-an punya sejumlah kelebihan yang bisa jadi pertimbangan orang-orang sebelum melakukannya. 

Mungkin Anda ingin penasaran? Yuk, coba cek di bawah!

Lebih Bebas Menentukan Itinerary

source: pexels.com/Lara Jameson

Salah satu kebebasan dari backpacker adalah bebas dalam menentukan itinerary yang akan dituju. Itinerary biasanya berisi rencana atau panduangan seseorang selama melakukan perjalanan, mulai dari destinasi kunjungan, waktu, hingga biaya yang diperlukan. Berbeda ketika ikut agensi wisata atau trip, seorang backpcker bebas membuat jadwalnya sendiri. Bahkan mereka cenderung fleksibel, tidak terlalu terpaku pada itinerary umum yang sering disebarkan melalui media sosial. Jadwal ini bisa berubah-ubah, menyesuaikan dengan kondisi dari pelancong itu sendiri. Sebelum menentukan rencana perjalanan, tentu harus dilakukan riset mendalam terlebih dahulu. Agak susah memang, karena aktivitas itu dilakukan seorang diri, paling tidak dengan panduan internet yang mudah diakses. Hanya saja, kegiatan tersebut pun memberikan kelebihan orang supaya lebih dekat dengan destinasi yang mau dikunjungi. 

Budget yang Lebih Hemat

source: pexels.com/Olia Danilevich

Salah satu alasan utama yang membuat seseorang memilih melakukan perjalanan dengan backpacking adalah penghematan biaya. Prinsip utama dari backpacker sendiri yaitu mengeluarkan biaya seminim-minimnya, khususnya akomodasi selama perjalanan. Perhitungan pengeluaran dari backpacker traveler sebisa mungkin memang terbatas. Mereka tidak akan mencari hotel mewah, tranportasi mahal, makanan dan minuman yang viral, atau sibuk mencari beragam oleh-oleh untuk dibawa pulang. Pemilihan objek bagi backpacker terkadang justru mengenyampingkan rasa nyaman, yang terpenting ada dan layak untuk digunakan. Misalnya, untuk menginap, pilihan hostel, motel, homestay, atau kost indie bisa jadi alternatif yang terjangkau. Kemudian, agar lebih mengehemat pengeluaran, mereka harus melakukan riset terkait transportasi lokal sebagai alat mobilitas. Biasanya, tranpsortasi lokal sudah disubsidi, sehingga harganya memang jauh lebih murah. Lalu, untuk makanan, backpacker akan menghindari rumah makan mewah, kafe kekinian, atau camilan-camilan yang dibanderol harga tinggi. Tujuan makan adalah mengisi tenaga, jadi, hidangan sederhana dan mengenyangkan pasti lebih dipilih. Apalagi kalau harganya murah, menjadi nilai plus yang diincar. Semua itu bisa diatur sendiri, tanpa campur tangan orang lain.

Eksplorasi Lebih Luas dengan Budaya Lokal

source: pexels.com/Ketut Subiyanto

Perjalanan dengan penghematan budget memaksa seseorang untuk memilih akomodasi paling terjangkau, seperti misalnya menggunakan transportasi lokal atau bahkan berjalan kaki. Jika ada transportasi yang memiliki jalur tetap dan sesuai arah, misalnya angkot, maka itulah yang dicari. Ada pula yang memilih untuk berjalan kaki ketika jaraknya dekat, bisa dicapai dalam waktu relatif cepat tanpa kendaraan. Rasa lelah itu pasti ada, tapi justru aktivitas tersebut dapat mendekatkan traveler dengan budaya lokal. Waktu perjalanan, orang akan melihat bagaimana lingkungan destinasi liburan berada. Bagaimana situasi dan dinamika kehidupan yang mungkin berbeda dari tempat tinggal sehari-hari. Tidak jarang pula, traveler menemukan hidden gems yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kemungkinan mengenal orang baru pun terbuka lebar, entah itu warga lokal atau sesama pelancong. Dari sana, tumbuh hubungan yang lebih intens, contohnya sharing pengalaman, bertukar sosial media, atau melakukan perjalanan bersama. Keterbatasan akomodasi nyatanya tidak selalu buruk. Seorang traveler dapat memanfaatkan kekurangan itu untuk belajar dan mendalami kearifan lokal destinasi yang dikunjunginya. Pengalaman tersebut justru lebih menarik dan tidak terlupakan. 

Tidak Terlalu Banyak Barang Bawaan

source: pexels.com/ArtHouse Studio

Seseorang yang melakukan backpacking biasanya punya tujuan cukup kompleks, bukan sekadar liburan, tapi mereka juga ingin eksplorasi mendalam terkait budaya lokal lokasi yang dikunjunginya. Oleh karena itu, barang bawaan yang dibawa tidak terlalu banyak. Istilah backpacker pun berasal dari kata backpack atau ransel. Jadi, bisa disimpulkan backpacker merupakan orang yang melakukan perjalanan dengan menggunakan ransel. Tentu melihat ukuran ransel yang terbatas, tidak mungkin semua benda bisa masuk ke sana. Lumrahnya, benda-benda pokok yang akan dibawa, seperti beberapa lembar pakaian ganti, alat mandi, perlengkapan elektronik (misalnya charger, earphone, dan sebagainya), juga sandal jika diperlukan. Kebanyakan benda yang dibawa bisa digunakan lagi dalam jangka waktu lama, berukuran kecil atau travel size, dan ringan, tujuannya adalah menghemat pengeluaran serta meringankan beban bawaan. Sedikitnya barang yang dibawa nantinya memudahkan backpacker dalam melakukan perjalanan. Namun, tidak jarang orang membawa ransel yang ukurannya besar untuk membawa perlengkapan memasak portable, contohnya panci atau teko listrik. 

Mengurangi Limbah Sampah

source: pexels.com/Sonny Sixteen

Backpacker berupaya menggunakan kembali barang-barang yang dibawa atau dibeli. Opsi barang sekali pakai akan disingkarkan terlebih dahulu, karena dianggap kurang efektif dan membuang-buang uang. Contoh saja pakaian, seorang backpacker lebih memilih mencari tempat laundry daripada harus membeli baru setelah dipakai. Walaupun kelihatannya ribet, tapi langkah ini memberikan dampak positif bagi lingkungan. Limbah tidak akan menumpuk sebab sampah yang dibuang tidak banyak. Perlu diingat, meskipun sampah bisa terurai, akan membutuhkan waktu lama. Selain itu, di beberapa kawasan di Indonesia saat ini sudah diberlakukan pembatasan pembuangan sampah, jadi daripada sulit mencari tempat pembuangan, lebih baik pilih barang yang bisa digunakan kembali di masa depan. 

Malatih Mental dan Nyali

source: pexels.com/Sogi

Ada banyak orang ingin melakukan backpacking, tapi kadang terhalang dengan rasa takut. Pikiran-pikiran negatif itu muncul, menjadi sebuah hambatan untuk keberangkatan perjalanan yang menyenangkan. Padahal, setelah dijalani, kegiatan backpacking dapat membeirkan banyak manfaat untuk individu. Pertama, seseorang tentu berlatih bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru. Berkunjung ke lokasi yang asing dan orang-orang baru, tentu tidak mudah, tapi hal itu bisa dilewati tergantung pada kemampuan diri dalam menghadapinya. Perlahan-lahan kepercayaan diri itu muncul, mulai membaur dengan lingkungan sekitar yang ada di depan mata. Kadua, menumbuhkan keberanian, khususnya ketika seseorang melakukannya sendirian. Ketiga, melatih budgeting. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsep dari backpacker adalah menghemat pengeluaran. Jadi, backpacker melatih bagaimana orang mengatur keuangannya selama melakukan perjalanan. 

Itu dia beberapa kelebihan yang bisa Anda dapatkan dari melakukan backpacking. Melakukan perjalanan dengan keterbatasan bukan sesuatu buruk, sebab ada beragam hal mengejutkan yang pasti telah menunggu. Walaupun, tetap ada yang kontra karena backpacking dianggap tidak nyaman, kurang aman, dan sulit dilakukan oleh sebagian orang.

Baca juga: Awali Musim Tanam dengan Menu Sederhana, Sega Wiwit Khas Jawa

Author: Asvi

Comments:

Leave a Reply

you may also like