Source: unsplash.com/Humphrey M
Setiap etnis memiliki kebudayaan yang luhur, dijaga dari generasi ke generasi, sejak dulu hingga sekarang. Termasuk dalam kebudayaan Tionghoa, banyak kulturnya yang kini telah mengglobal. Banyak hal sepele, ternyata memiliki makna yang mendalam. Salah satunya adalah warna, dimanan setiap warna dianggap mewakili karakter dan membawa nasib bagi penggunanya.
Warna jadi elemen penting dalam perayaan bagi masyarakat Tionghoa. Ketika Imlek tiba, dalam menyambut tahun baru, masyarakat akan lebih selektif dalam memilih warna untuk meraih apa yang diinginkan serta mendoakan hal-hal baik selama tahun. Oleh karena itu, ada beberapa warna yang disarankan untuk dikenakan ketika tahun baru ini datang.
Yuk, coba cek selengkapnya di bawah!
Merah

Source: unsplash.com/MontyLov
Tentu saja, warna merah jadi ciri khas yang selalu melekat ketika Imlek tiba. Warna merah yang bersinar itu memberikan tampilan segar, muda, dan bersemangat. Secara umum, warna merah sering dikaitkan dengan sifat berani, membara, serta penuh gairah. Hal itu sangat cocok untuk menyambut lembaran baru di pergantian tahun.
Di dalam kebudayaan Tionghoa sendiri, warna merah mewakili api. Warna merah adalah simbolisasi dari keberuntungan, kebahagiaan, serta kemakmuran. Dari warna merah diharapkan segala energy positif dapat tersampaikan dengan baik. Warna merah juga jadi simbol untuk mengusir roh jahat dan nasib buruk. Anggapan itu berkaitan dengan mitos kuno yang diceritakan secara turun temurun. Diceritakan, roh jahat bernama Nian itu takut dengan warna merah, sehingga orang-orang Tionghoa memasang warna merah di berbagai bagian, dari pakaian, dekorasi rumah, dan sebagainya.
Emas

Source: unsplash.com/Christopher Stites
Warna emas kerap muncul ketika Imlek datang. Pada beberapa pernar-pernik yang khas, warna emas selalu tampil, biasanya berkombinasi dengan warna merah. Tampilannya begitu elegan dan mengandung estetika tinggi. Warna ini dipilih sebab punya filosofi yang begitu baik serta gambaran dari kehidupan yang mulia.
Mengutip dari Treasury, menurut feng shui, warna emas adalah lambang dari keberuntungan yang melimpah. Warna emas dapat dijadikan sebagai factor penting untuk menarik uang. Di samping itu, warna emas menjadi lambang keagungan, maka dari itu sering terlihat di sekitar istana, altar, dan kuil. Sama seperti warna merah, emas menjadi warna yang memberikan aura positif.
Kuning

Source: unsplash.com/Yosafat Herdian
Warna kuning jadi pilihan yang tepat dalam menyambut tahun baru Imlek. Warna kuning merupakan simbol tanah yang memiliki makna positif dalam kehidupan. Selain itu, warna kuning diartikan dari segala pusat, yang mampu membentuk Yin dan Yang. Tidak salah jika warna kuning selalu berkombinasi dengan warna merah.
Dikaitkan degan kepercayaan Buddha Tiongkok, kuning jadi lambang kebebasan dalam hal materi. Warna kuning identic dengan jubah yang dikenakan oleh biksu. Kuning tidak hanya memberikan rasa semangat, ceria, serta harmonisasi, tetapi mencakup sifat hangat serta kebijakasanaan. Warna kuning sangat cocok dikenakan dan dikombinasikan warna lain ketika Imlek datang.
Orange

Source: unsplash.com/Decla Sun
Tahun Baru Imlek sangat identic dengan jeruk yang memiliki warna oranye terang, misalnya jeruk santang. Adanya jeruk ini memang jadi salah saru bagian dari sesaji dalam Imlek, tapi warna oranye yang melingkupinya nyatanya memiliki filosofi sendiri. Oleh karena itu, warna oranye pun sering dikenakan dalam perayaan Imlek.
Orang Tionghoa percaya bahwa warna oranye cerah sama dengan emas. Warna oranye jadi pralambang rezeki yang melimpah, utamanya uang. Emas yang diwakilkan warna oranye juga bagian dari unsur logam, dimana logam adalah salah satu dari lima elemen kehidupan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa warna oranye adalah simbol dari emas, mewakili elemen logam yang membawa keberuntungan hidup.
Hijau

Source: unsplash.com/Marilyn Paige
Warna hijau dapat memberikan kesan yang menyejukan karena identik dengan daun atau pepohonan. Menghadapi Tahun Baru Imlek, warna hijau lumayan laris manis dipilih karena dianggap mewakili hal baik. Warna hijau sering terlihat dalam beberapa dekorasi, berkombinasi dengan warna lain yang sama punya makna positif.
Hijau menyimbolkan kesuburan, kesehatan, regenerasi, dan pembaharuan. Hijau juga jadi simbol dari kemurnian serta kebersihan yang divisualisasikan dari setiap sayur mayur dalam hidangan ketika Imlek. Warna ini memang tidak sepopular merah atau emas, tetapi hijau dapat digunakan selama memberikan dampak yang baik bagi kehidupan. Namun, bagi laki-laki disarankan tidak memilih hijau jika ingin mengenakan topi karena menurut kepercayaan Tionghoa, warna hijau dapat memberikan tanda bahwa istri dari laki-laki tersebut tidak setia, sehingga dianggap sebagai aib.
Ungu

Source: unsplash.com/Laura Ockel
Di Indonesia, ungu mungkin sering jadi bahan untuk melabel orang-orang dengan kurang etis, tapi bagi masyarakat Tiongoa, ungu adalah warna yang mulia. Ungu jadi salah satu warna yang mewakili elemen kehidupan menurut feng shui. Warnanya menenangkan, kalem, terasa lembut. Jadi, tidak salah jika ungu pantas dikenakan ketika Imlek tiba.
Warna ungu atau dalam Bahasa Kanton disebut dzi sik menggambarkan kekayaan, ketenaran, serta keberuntungan. Ungu mampu memberikan energy yang baik, sehingga sering dikenakn oleh orang yang ingin mencari kemakmuran. Di samping itu, warna ungu mewakili kesadaran spiritual, berhubungan dengan penyembuhan mental serta fisik.
Itu dia beberapa warna yang punya filosofi serta harapan positif bagi masyarakat Tionghoa ketika Imlek datang. Tentunya, warna di atas dipilih bukan tanpa alasan, sebab setiap warna punya nilai yang terkandung dan bisa memberikan positive vibes untuk diri sendiri maupun orang lain. Warna-warna ini dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk mencari dekorasi Imlek, busana, atau tempat sembahyang.
Merah, emas, kuning, oranye, hijau, dan ungu jadi enam warna yang dianjurkan. Namun, ternyata ada warna yang sebaiknya dihindari saat Imlek tiba. Warna tersebut tidak bisa dipakai karena merupakan simbolisasi dari sesuatu yang kurang baik.
Warna pertama yang harus dihindari adalah warna putih. Warna ini berkaitan dengan suasana duka, kematian, serta pemakaman, sehingga tidak cocok dengan makna dari Imlek yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Warna putih jadi pantangan tersendiri dan dianggap tidak sopan dikenakan saat tahun baru. Walaupun, warna ini masih bisa dipakai dengan syarat dikombinasikan warna lain, seperti merah atau emas. Tujuannya yaitu agar energy yang dihasilkan seimbang.
Sejalan dengan warna putih, warna hitam pun tidak bisa dikenakan ketika Imlek. Alasannya sama, karena hitam membeirkan simbol kematian dan nasib buruk. Energi yang dibawa dianggap negtif, bertentangan dengan kebahagiaan semarak menyambut tahun baru. Terutama orang-orang tua, warna hitam sangat dihindari, kecuali dikombinasikan dengan warna lain yang akan memberikan keseimbangan kehidupan.
Warna abu-abu juga tidak disarankan untuk dikenakan saat Imlek. Abu-abu memberikan pancaran yang kurang semangat, kusam, dan energy yang rendah. Padahal, masyarakat Tionghoa diharapkan bersemangat dan bergairah saat Imlek datang. Menyambut masa yang akan datang, pastinya harus dijalani secara baik. Namun, berkembang pula sebuah kebudayaan yang mengatakan bahwa abu-abu jadi warna keberuntungan untuk shio tertentu, yaitu Babi dan Harimau.
Comments:
Leave a Reply