Source: unsplash.com/Sahil Pandita
Tahun Baru Imlek atau orang lebih sering menyebutnya sebagai Imlek adalah sebuah peringatan yang ditunggu oleh masyarakat etnis Tionghoa, utamanya di Indonesia. Imlek menjadi momentum untuk merayakan pergantian tahun, membuka lembaran baru, mencari peluang-peluang baru, dan memunculkan harapan-harapan lain. Oleh karena itu, Imlek selalu dirayakan dengan sukacita. Sebelum datang, masyarakat yang merayakan Imlek akan melakukan berbagai tradisi atau ritual terlebih dahulu. Di setiap daerah pun berbeda-beda, sesuai kebudayaan yang dianut.
Di Indonesia sendiri, masyarakat yang merayakan Imlek punya beberapa tradisi yang selalu dilakukan. Masing-masing tempat ada hal menarik yang bisa dirayakan. Namun, setidaknya ada beberapa yang popular dan masih lestari hingga kini.
Yuk, cek tradisi apa saja yang sering dilakukan dalam menghadapi Imlek di Indonesia!
Bersih Rumah dan Memasang Hiasan
Source: unsplash.com/Jason Sung
Bersih-bersih sepertinya bukan hal yang baru dalam menghadapi sebuah acara penting. Sama seperti masyarakat Tionghoa, menuju Imlek adalah hari yang sibuk karena mereka akan melakukan bersih-bersih rumah. Tindakan ini selain dapat membuat lingkungan jadi tampak lebih asri, juga punya filosofi membersihkan energy buruk yang melingkupi rumah. Kegiatan bersih-bersih ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang Imlek.
Memang, tradisi bersih-bersih ini berkebalikan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa, yaitu tidak boleh membersihkan rumah selama tiga hari pertama Imlek. Hal tersebut dipercaya bahwa dapat menghilangkan keberuntungan di tahun baru. Jadi, memang rumah akan dibiarkan seperti itu sampai nanti waktunya tiba dibersihkan lagi.
Setelah dibersihkan, di hari sebelum Imlek, masyrakat Tionghoa akan menghias rumah. Hiasan lumrahnya dipenuhi warna merah dengan pernak-pernik khas, misalnya lampion, pohon untuk kumquat, dan sebagainya. Nuansa Imlek pasti akan terasa lebih semarak ketika beragam hiasan sudah terpasang.
Berkumpul dengan Keluarga

Source: Pinterest
Sama seperti perayaan lain, Imlek adalah ajang untuk berkumpul dengan keluarga besar. Pada hari ini, seluruh anggota keluarga, dari orang tua, anak, cucu, kakak, adik, dan lain-lain akan berkumpul menjadi satu. Mereka akan saling bersilaturahmi, membagikan kebahagiaan di hari yang menyenangkan.
Banyak aktivitas yang bisa dilakukan ketika berkumpul bersama keluarga. Paling sering adalah makan bersama. Saat Imlek, masyarakat Tionghoa memiliki tradisi unik untuk mengonsumsi makanan tertentu yang melambangkan keberuntungan di tahun baru. Ada juga yang memanfaatkan waktu berkumpul dengan keluarga ini untuk beribadah bersama atau berkunjung ke rumah saudara yang lain.
Membaca Nasib Lewat Shio

Source: unsplash.com/Christopher Gerry
Masyarakat Tionghoa memiliki 12 shio atau zodiac yang akan berulang setiap tahunnya. Shio disimbolkan dengan berbagai macam hewan, diantaranya ada tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Setiap shio pun memiliki elemennya masing-masing, sehingga membentuk satu kesatuan serta karakter yang berbeda-beda.
Membaca shio bagi masyarakat Tionghoa adalah satu hal krusial. Dari Shio, seseorang bisa mengetahui peruntungannya di tahun yang dijalaninya, mulai dari asmara, keuangan, pekerjaan, dan lain-lain. Mengetahui ramalan dari shio ini biasanya digunakan oleh masyarakat Tionghoa sebagai informasi untuk mengubah nasib buruk jadi peruntungan yang lebih baik.
Makan Hidangan Khas Imlek

Source: unsplash.com/rama purnama
Salah satu hal yang menyenangkan dari Imlek adalah adanya kuliner-kuliner khas yang muncul. Terlebih dengan budaya menyajikan makanan dalam acara tahun baru ini. Seperti menyajikan 12 macam makanan yang jadi representasi dari 12 shio. Setiap makanan juga punya filosofi atau makna yang begitu baik untuk kehidupan.
Beberapa makanan yang ada saat Imlek seperti mi panjang umur, dimana cara mengonsumsinya sangat unik, yaitu mie harus dimakan tanpa putus. Filosofi dari makna tersebut adalah agar manusia selalu panjang umur dan hidupnya selalu berkah. Kemudian ada juga kue lapis yang berfilosofi akan mendapatkan rezeki berlapis-lapis. Tidak lupa ketinggalan kue keranjang ikonik yang punya rasa manis, melambangkan rejeki yang lebih banyak dan kerekatan keluarga. Namun, ketika Imlek ada juga makanan yang tidak bisa dikonsumsi, yaitu bubur, karena punya simbol kemiskinan, sehingga disarankan untuk tidak dikonsumsi.
Menyalakan Kembang Api

Source: unsplash.com/DESAINEKOLOG
Masih sama seperti tahun baru pada umumnya, Imlek pun tak lengkap tanpa adanya kembang api atau petasan. Kerap kali baik individu, kelompok, atau suatu badan mengadakan pesta kembang api yang meriah. Ajang ini jadi salah satu kemeriahan yang dinantikan oleh masyarakat Tionghoa.
Ternyata, kembang api tidak hanya menandakan kemeriahan. Jauh lebih dalam, kembang api punya makna dalam tradisi perayaan Imlek. Kembang api menurut kepercayaan Tionghoa adalah media untuk menakut-nakuti roh dan binatang jahat. Sedangkan suara yang keras diharapkan dapat memanggil Jenderal Tiongkok yang begitu disegani, Guan Yu.
Menyaksikan Barongsai dan Liong

Source: unsplash.com/Fikri Rasyid
Satu kesenian yang paling dicari ketika Imlek adalah petunjukan barongsai serta liong. Keduanya merupakan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Tionghoa, sebagai perwujudan rasa kebahagiaan di hari yang yang baru. Adanya barongsai serta liong juga memiliki makna membawa keberuntungan dan dapat mengusir roh jahat.
Barongsai sendiri adalah tarian dimana pemainnya mengenakan kostum kombinasi yang menyerupai singa. Barongsai dibagia jadi dua, yaitu dari Utara dan Selatan. Sedangkan tari Liong berarti naga, dimainkan oleh beberapa orang yang membawa property naga. Dalam tariannya, naga atau liong akan berkelok-kelok seperti ketika terbang. Hewan-hewan yang tercermin dalam barongsai dan liong menjadi kebudayaan yang mengakar bagi masyarakat Tionghoa.
Menanti Hujan

Source: unsplash.com/Nick Nice
Tahu tidak bahwa hujan dalam kebudayaan Tionghoa adalah sebuah keberkahan? Terlebih jika hujan tersebut datang ketika Imlek tiba. Hujan menjadi pertanda rezeki yang datang pada seseorang selama setahun. Ketika hujan semakin deras, maka rezeki yang akan datang pun sama banyaknya.
Masyarakat Tionghoa menyambut baik hujan saat tahun baru datang. Mereka tidak takut dan justru bersiap-siap dengan membawa perlengkapan, seperti payung, jas hujan, dan lain-lain. Kebetulan, tahun ini Imlek terjadi di bulan Februari, sehingga masih termasuk ke dalam musim hujan.
Berbagi Angpao dengan Keluarga

Source: unsplash.com/Bach Nguyen
Tradisi paling ditunggu dan wajib dilakukan ketika Imlek adalah berbagi angpao. Tradisi ini memiliki filosofi bahwa memberikan angpao berarti memberikan rezeki pada orang lain, terutama anak-anak dan orang tua. Angpao memiliki ciri khas menggunakan amplop warna merah, warna kebetuntungan di tahun baru Imlek.
Angpao tidak diberikan secara sembarangan karena punya aturan yang harus diikuti. Pertama, angpao harus diberikan oleh orang dewasa, khususnya sudah menikah, pada orang dengan usia lebih muda. Jumlah uang pada angpao tidak boleh ganjil atau kelipatan empat, tapi bisa menggunakan kelipatan delapan atau yang memiliki unsur delapan. Uang yang diberikan pada angpao harus kertas, tidak boleh koin, dan harus rapi. Angpao harus diberikan ketika Imlek, tidak boleh sebelum atau sesudah. Saat menerima angpao pun harus menggunakan dua tangan dan saling mengucapkan doa baik.
Itu dia beberapa tradisi Imlek yang sampai sekarang masih lestari di Indonesia. Imlek jadi hari yang menyenangkan dan selalu ditunggu, Lebih dalam, Imlek bukan hanya sekadar kesenangan, tapi jadi waktu untuk berdoa dan melakukan perubahan pada diri sendiri di tahun yang baru. Tradisi-tradisi tersebut jadi satu di antara berbagai kiat yang dijalani.
Comments:
Leave a Reply