Source: unsplash.com/Vinn Koonyosying
Sering terdengar orang menyebut asian food atau western food ketika berhadapan dengan sebuah menu. Istilah tersebut tentunya disematkan sebab ada alasan tertentu. Memang ada beberapa faktor yang jadi pembeda antara makanan dari daratan Asia dan Barat, khususnya Eropa. Bagi pecinta kuliner, pasti tidak akan sulit membedakannya dari segi look. Namun, nyatanya perbedaan itu tidak sesederhan yang dipikirkan orang.
Yuk, cari tahu yang bikin asian food dan western food jadi dua makanan yang sangat berbeda!
Disebut Oriental dan Kontinental

Source: unsplash.com/Lily Banse
Dalam dunia kuliner, setiap jenis makanan bisa memiliki nama sendiri. Secara garis besar, mereka adalah menu oriental untuk masakan Asia dan kontinental untuk resep hidangan dari Eropa. Kemudian nama itu berkembang lebih luas menjadi berbagai sebutan, seperti chinese food, japanese food, thai food, indonesian food, italian food, dan sebagainya.
Istilah tersebut diberikan oleh bangsa Eropa pada masa lalu. Kata oriental merujuk pada Bahasa Latin oriri yang artinya terbit dan oriens yang artinya timur. Jadi, bisa disimpulkan bahwa oriental adalah kawasan yang terletak di timur Eropa, yaitu Asia. Di sisi lain, kontinen sendiri merujuk pada makna Benua Eropa (khususnya Barat, Selatan, dan Timur), yang punya tradisi menyuguhkan menu sesuai urutan dan makanannya berbeda dari Inggris, meskipun masih satu benua yang sama.
Penggunaan Bumbu dan Rasa
Perbedaan mendasar kedua antara orientel food dan continental food terletak pada penggunaan bumbu.

Source: unsplash.com/Ratul Ghosh
Asia memiliki alam yang subur dengan variasi iklim yang berbeda-beda di setiap tempat. Beberapa negara mungkin memiliki 4 musim, sementara ada negara tropis yang hanya memiliki dua musim, seperti Indonesia. Waktu-waktu seperti ini sangat memudahkan masyarakat untuk menanam berbagai jenis tumbuhan, termasuk rempah-rempah.
Kondisi Asia yang mampu ditanami berbagai rempah pun berpengaruh pada budaya memasak masyarakatnya. Orang-orang Asia sangat suka memasak menggunakan bawang putih, ginger, lengkuas, kunyit, cabai, dan lain-lain. Setiap negara pun punya ciri khasnya masing-masing untuk setiap menu. Hasilnya rasanya begitu kaya, kompleks, dan aromanya begitu kentara.

Source: unsplash.com/Annie Spratt
Berbeda dengan Eropa yang hampir semuanya punya iklim empat musim. Membuatnya mungkin akan sulit jika harus ditanami rempah-rempah yang begitu banyak. Namun, jangan salah, karena di Eropa ada banyak jenis tumbuhan herbal yang sering ditanam dan dijadikan bumbu untuk masakan.
Hidangan dari Eropa memang dikenal memiliki rasa yang lebih light. Penggunaan herbs memberikan sensasi yang berbeda, misalnya rosemary, thyme, oregano, olive oil, dan sebagainya. Tidak jarang mereka menambahkan buah, seperti perasan jeruk lemon, zest, atau mungkin apel. Rasanya mungkin memang kurang nampol, tapi ada karakter yang ingin disampaikan melalui hidangan.
Teknik Memasak

Source: unsplash.com/Kevin McCutcheon
Perbedaan kedua bisa disaksikan dari bagaimana teknik memasak yang akan digunakan. Antara oriental dan kontinental punya sisi yang berseberangan, tapi nyatanya saling melengkapi. Menciptakan berbagai tekstur, aroma, dan rasa yang berbeda-beda, sehingga saat ini orang-orang mampu merasakan variasi hidangan dari berbagai negara.
Masyarakat oriental atau Asia, lebih sering menggunakan metode tumis, kukus, goreng, atau rebus dengan waktu singkat. Di daratan Asia, wajan atau wok bahkan diperlakukan secara istimewa karena alat tersebut akan memberikan citarasa tersendiri yang tidak bisa disamai oleh wajan yang lain. Cara masaknya sederhana, tapi rasa yang diberikan tentu sudah diperhitungkan oleh juru masak.
Menu kontinental lebih sering menggunakan metode roast, bake, saute, dan slow-cook. Metode-metode seperti ini akan memberikan kompleksitas pada tekstur yang mampu menciptakan pengalaman baru ketika disuap ke mulut. Di Eropa, alat seperti oven dan microwave adalah dua hal yang selalu ada di setiap rumah.
Bahan Makanan yang Digunakan

Source: unsplash.com/Julee Juu
Nah, untuk hal ini, mungkin bisa diketahui sekelibat mata. Perbedaan secara geografis tersebut tentunya mempengaruhi hasil tanam setiap negara. Hal tersebut pun berpengaruh dengan kuliner yang disajikan.
Makanan oriental memiliki variasi karbohidrat berupa nasi atau mi. Bahkan di Indoenesia sendiri, rasanya bukan makan kalau tidak ada nasi. Kemudian, protein yang digunakan lebih sering seafood atau daging ayam, terkadang juga tempe dan tahu. Namun, di beberapa tempat, daging merah, misalnya babi, juga masih dikonsumsi.
Di kawasan Eropa, padi tidak bisa tumbuh secara baik, tapi gandum dapat subuh berkembang. Dari sana, orang-orang Eropa menciptakan karbohidrat dari gandum, menjaid roti, pasta, dan sebagainya. Ada kalanya karbohidrat diganti menjadi kentang. Protein yang digunakan mayoritas adalah daging, beberapa jenis ikan, dan ayam.
Cara Penyajian

Source: unsplash.com/Debbie Tea
Hidangan oriental cenderung akan dimasak dalam porsi besar karena lebih sering dimakan bersama-sama atau sharing. Ini adalah sebuah tradisi, dimana kebersamaan dijunjung secara tinggi, khususnya di kawasan Tiongkok, Jepang, dan Korea. Beragam menu akan disajikan di meja putar, sehingga orang-orang dapat menikmati setiap makanan bergantian.
Masyarakat Asia pun memiliki cara unik sebelum memulai makan, yaitu menunggu orang yang lebih tua atau tuan rumah untuk mengambil lebih dulu. Hal itu dianggap sebagai sebuah etika meja tak tertulis yang harus dilakukan oleh setiap peserta orang. Untuk alat makan sendiri, ada yang menggunakan sumpit atau langsung tangan kosong.

Source: unsplash.com/Angelina Korolchak
Penyajian menu ala Barat jauh lebih struktur dengan urutan keluar sesuai waktu makan. Hidangan dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu appetizer atau hidangan pembuka, main course atau makanan utama, serta dessert atau hidangan penutup. Masing-masing kategori dimasak per porsi dan disajikan kepada setiap individu.
Kontinental menggunakan sendok, garpu, dan pisau untuk mengambil makanan. Bahkan, di beberapa negara terdapat table manner yang berbeda-beda setiap kali berhadapan dengan makanan. Table manner ini sangat penting untuk dipelajari karena jadi salah satu cara untuk menghormati hidangan serta orang lain ketika makan.
Orang-orang pun tidak akan sembarangan mengadakan jamuan makan, sebab waktu makan jadi budaya sendiri di Eropa. Jam 6-9 pagi adalah waktu sarapan. Masuk pukul 10 berarti namanya adalah brunch. Sedangkan makan siang terjadi mulai pukul 12 siang. Dilanjutkan afternoon tea dan makan malam datang pada pukul 7 malam. Hal ini bisa diketahui agar tidak salah mengajak orang ketika ingin makan bersama.
Nah, itu dia beberapa perbedaan yang cukup kentara di antara hidangan oriental dan kontinental. Keduanya lahir dari daratan yang berbeda, punya cara, bahan, dan hasil yang berbeda pula. Menjadikannya sebagai bentuk keragaman kuliner di dunia.
Jika Anda menemukan hidangan daging panggang dengan saus yang creamy dan aroma herbal kuat, berarti dasar memasaknya adalah western food. Sebaliknya, ketika Anda menemukan sebuah hidangan dengan kuah yang kaya, nasi, dan aroma kuat, itu adalah asian food. Walaupun, kini banyak orang yang gemar memasak telah mengombinasikan keduanya menjadi sebuah fusion atau gabungan dari beberapa bahan. Tingga pilih sesai selera saja, mau versi yang mana.
Comments:
Leave a Reply