Kopi adalah minuman yang lumrah dikonsumsi oleh banyak orang di dunia. Hitam, pekat, dengan rasa masam dan pahit yang berpadu dalam secangkir kopi mampu memberikan kenikmatan tersendiri bagi orang-orang yang menyesapnya. Beragam jenis kopi bisa ditemui, mulai dari manual brew, espresso based, milky based, dan sebagainya. Tentu, setiap rasa yang dihasilkan memiliki karakter tersendiri.
Komoditi terbesar di dunia kini dikuasai oleh dua jenis kopi, yaitu arabika dan robusta. Keduanya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Negara penyumbang kopi terbesar kini masih dipegang oleh Brazil, sedangkan Vietnam menduduki peringkat paling atas untuk urusan robusta. Indonesia pun termasuk ke dalam lima besar bersama berbagai spesies yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke.
Orang mengonsumsi kopi pasti punya tujuan tertentu. Dalam dunia kesehatan, kopi dianggap sebagai stimulan yang mampu membuat jantung berdegup lebih cepat dan meningkatkan kewaspadaan. Oleh karenanya, kopi sering dijadikan sebagai doping di kala tubuh sedang lelah tapi pekerjaan masih menggunung. Ada pula yang ingin menikmati ketenangan ketika menyesap secangkir kopi, reaksi yang diberikan dapat menjernihkan pikiran. Jadi, memang benar adanya jika motivasi tiap-tiap orang pada kopi berbeda-beda.
Tidak sedikit pihak yang tertarik untuk belajar tentang kopi. Pada mulanya, mereka akan dihadapkan dengan berbagai bentuk, warna, dan aroma dari biji kopi yang berbeda-beda. Kemudian lebih intens masuk ke bagian proses pembuatan sampai hasil jadi setiap kopi dalam gelas. Beda jenis kopi, maka beda juga treatment yang diberikan.
Di bawah ini sekilas tentang karakter dua jenis kopi terbesar di dunia yang mungkin bisa bantu penggiat kopi.
Jenis biji kopi yang umum ditemukan adalah robusta. Jenis kopi ini mudah sekali ditemukan karena gampang dibudidayakan. Mereka bisa tumbuh dengan ketinggian yang rendah serta tahan terhadap hama. Jadilah biji kopi yang punya ketahanan dan rasa kuat dari robusta ini. Selain itu, harganya cukup terjangkau.
Dari segi rasa, dibandingkan arabika, robusta lebih pahit, strong, and sharp. Aromanya begitu khas ketika diseduh, seperti kayu bakar. Profil rasanya pun kerap disandingkan dengan gambaran earthy atau nutty. Body-nya tebal karena mengandung protein dan senyawa fenolikel dimana factor ini pun jadi peran utama terbentuknya rasa pahit. Namun, kandungan lemak serta gulanya cenderung lebih rendah, di samping kafeinnya yang tinggi.
Robusta yang punya karateristik kuat cocok sekali dijadikan sebagai bahan dasar membuat espresso. Menu kopi ini dibuat dari biji kopi yang digiling hingga fine size, kemudian diproses menggunakan alat bertekanan tinggi dalam rentang waktu tertentu. Dari espresso, banyak tercipta menu-menu autentik yang kini bisa didapatkan di coffee shop.

Cappucino
Menu ini sangat umum ditemui ketika Anda berkunjung ke tempat ngopi. Cappucino dibuat dari espresso, susu, dan juga foam. Dalam pembuatan cappuccino, terdapat rasio yang perlu diperhatikan antara 3 bahan utamanya, yaitu 1:1:1. Rasanya strong dengan tekstur berpori dari foam. Di Italia dan Perancis, cappuccino jadi minuman krusial yang bisa dikonsumsi pada waktu tertentu saja, yaitu sebelum jam 10 pagi saja.
Macchiato
Menu espresso lainnya adalah café macchiato. Terkadang, macchiato sering disamakan dengan cappuccino, tetapi ada perbedaan mendasar antara perbandingan yang digunakan dari espresso dan foam. Macchiato tidak menggunakan susu cair, tetapi foam tipis yang akan menjadikan espresso terasa lembut ketika masuk ke mulut.
Latte
Latte jadi menu yang popular dan digandrungi oleh kawula muda. Latte juga dibuat dari espresso yang kebanyakan meggunakan robusta sebagai bahan bakunya. Rasio perbandingan susunya memang lebih banyak ketimbang kopi, sehingga rasa yang didapatkan cenderung creamy dan milky.
Vietnam Drip
Vietnam drip sebenarnya diambil dari alat seduh atau dripper khas Vietnam yang bentuknya mirip cangkir, tapi punya filter di bagian bawahnya. Orang-orang Vietnam sangat gemar membuat kopi dengan campuran kental manis. Kopi susu Vietnam drip ini punya rasa yang blend antara kental manis dan kopi robusta yang digiling dengan ukuran medium to fine.
Americano
Secara literal, Americano berarti kopi ala orang Amerika. Menu ini muncul di kawasan Eropat, tepatnya Italia, pada pada kolonialisme, dimana saat itu orang-orang Amerika yang datang tidak kuat dengan rasa pahit dari espresso atau kopi robusta. Mereka pun akhirnya menambahkan air untuk mengurangi rasa pahit tersebut. Sampai sekarang, Americano jadi salah satu menu favorit di coffee shop.
Baca juga: Tips Dapur: Resep Arem-arem Ayam Spesial, Sajian Camilan Yang Bikin Kenyang
Komoditi kopi terbesar kedua di dunia adalah arabika. Walaupun tidak sebesar robusta, tetapi saat ini semakin banyak petani kopi yang membudidayakan jenis kopi arabika. Soal rasa, arabika memang lebih bervariasi, sehingga menargetkan orang-orang yang ingin mengeksplorasi kopi lebih dalam.
Biji kopi arabika memerlukan perawatan yang cukup sulit, sebab itulah petani lebih memilih robusta. Arabika disa tumbuh di kawasan yang punya suhu rendah, artinya harus pada dataran tinggi. Selain itu, arabika tidak terlalu tahan dengan hama, sehingga bisa saja mati di pertengahan mereka tumbuh. Faktor-faktor ini yang menyebabkan arabika lebih mahal dibanding robusta.
Arabika punya variasi yang lebih beragam. Setiap bijinya mampu memberikan pengalaman rasa yang berbeda-beda. Terdapat profil rasa yang ditawarkan, seperti masam, manis, fruity, floral, dan sebagainya. Variasi inilah yang akan membuat orang penasaran dan jatuh cinta kepadanya. Apalagi, jenis arabika jauh lebih ramah bagi orang-orang yang memiliki penyakit lambung, seperti maag atau GERD karena kafeinnya rendah .
Jenis kopi arabika pun akan memiliki warna yang berbeda-beda. Body-nya cenderung tipis karena memiliki kandungan gula dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan robusta. Namun, karena hal itulah, kopi arabika bisa punya citarasa berbeda pada setiap seduhannya. Hal tersebut dipengaruhi juga oleh ukuran gilingan kopi.
Sama seperti robusta, arabika sebenarnya cocok saja dibuat menjadi espresso, yang nantinya bisa dikembangkan jadi beragam menu lain. Rasanya jelas berbeda dari espresso yang dibuat menggunakan biji kopi robusta. Orang-orang biasanya lebih suka menyeduh biji kopi arabika secara manual, menggunakan berbagai alat.
Setiap dripper atau alat seduh kopi pun nantinya akan memberikan rasa yang berbeda-beda. Faktor pendukung lainnya tentu saja dari air, suhu, dan intensitas waktu kopi bersentuhan dengan air. Inilah yang membuat arabika jadi lebih menarik untuk dieksplor. Beberapa alat yang terkenal pun misalnya V60, kalita wave, dan clever dripper.
V60
Di coffee shop, Anda bisa jadi sering menemukan alat ini. Bentuknya seperti corong dengan filter di bagian dasarnya. Alat ini punya sudut kemiringan 60 derajat. Untuk membuat kopi menggunakan V60, Anda memerukan paper filter. Alat ini memungkinkan Anda untuk mengontrol penuh terhadap laju air untuk menghasilkan ekstrasi yang diinginkan.
Kalita Wave
Kedua, ada kalita wave yang memiliki bentuk seperti cangkir dengan bagian alas datar lebar dan tiga lubang kecil. Cara penyeduhan kopi menggunakan alat ini hampir sama dengan V60, bahkan lebih mudah untuk pemula. Kopi seduhan kalita wave akan memberikan rasa yang lebih seimbang dan konsisten.
Clever Dripper
Ketiga, ada alat seduh kopi bernama clever dripper yang memanfaatkan dua tahap penyeduhan. Tidak seperti V60 dan kalita wave, dimana kita bisa menuangkan air secara berkala, clever dripper memerlukan perendaman terlebih dahulu, sebelum akhirnya disaring. Rasa yang diberikan akan jauh lebih pekat dibandingkan V60 maupun kalita wave.
Itu dia secuil profil dua jenis kopi terbesar di dunia yang kini masih berada di tengah kita sampai sekarang. Preferensi kopi setiap orang memang berbeda-beda. Tinggal memilih, ingin yang kuat, tajam, dan pekat seperti robusta atau yang lebih bervariasi, masam, dan lighter untuk pengalaman rasa yang lebih dalam.
Baca juga: Akibat Jarang Olahraga Gangguan Kesehatan Mental Ini Bisa Terjadi
Author: Asvi
Comments:
Leave a Reply