Sering dibahas melalui sosial media, tentang hoarding disorder yang kini semakin merebak diketahui masyarakat. Berita yang naik seringnya terjadi pada kamar sewa atau kontrakan yang tidak tampak kumuh dengan banyak sampah berserakan dimana-mana. Pemandangan yang tidak mengenakan tersaji, dari visualnya bisa dibayangkan bagaimana aromanya yang tidak sedap. Kondisi ini menjadi sesuatu yang serius, mengingat kasus hoarding disorder sudah banyak terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, sosialisasi terkait penyakit tersebut perlu ditingkatkan lebih lagi.
Apa itu hoarding disorder?
Hoarding disorder termasuk ke dalam gangguan kesehatan mental yang berpotensi dimiliki siapa saja. Hoarding disorder membuat pengidapnya mengumpulkan dan menimbun barang-barang. Pasalnya, barang yang ditimbun ini sifatnya begitu random, dari yang biasa sampai luar biasa, dari yang berguna sampai tidak berguna. Dari kebanyakan yang terjadi, sampah juga sering dikumpulkan entah untuk apa. Kegiatan ini mengakibatkan penumpukan barang yang berdampak pada penyempitan ruang, udara kotor, hingga terganggunya masalah kesehatan yang lain.
Mengutip dari National Library of Medicine National Center for Biotechnology Information, hiarding disorder diterjemahkan sebagai pola dalam mengelola diri menyimpan barang, bahkan sesuatu yang tidak punya nilai sama sekali. Seolah tidak ada niat untuk membuang sampah yang akhirnya terakumulasi begitu banyak tanpa tujuan apapun. Hoarding disorder bisa melekat pada orang-orang yang mengalami gangguan mental lain, seperti Obsessive Compulsive Disorder (OCD), skizofrenia, serta demensia.
source: pexels.com/Ron LachPenyebab Hoarding Disorder
Setelah mulai viral dimana-mana terkait hoarding disorder, para pakar dan peneliti mulai membuka bagaimana gangguan ini terlihat. Mengutip dari laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, menurut Frost dan Hart, hoarding disorder memiliki tiga karakter utama yang kerap menonjol. Pertama, ketidakmampuan serta kegagalan membuang barang-barang yang tidak berguna. Kedua, ruang yang berantakan, sehingga menghambat pergerakan. Ketiga, munculnya tekanan atau gangguan dari fungsi fisik.
Seseorang tidak akan tiba-tiba memiliki keinginan menimbun barang secara berlebihan. Ada faktor penyebab yang membuat perasaan itu berkembang progresif setiap harinya. Mencari dari berbagai media, bisa disimpulkan ada sejumlah faktor yang mendukung terjadinya hoarding disorder. Seseorang yang mengalami gangguan ini biasanya pernah mengalami kejadian traumatis, khususnya kehilangan yang luar biasa, sehingga mereka merasa tidak mau mengalaminya dan memutuskan mengumpulkan semuanya. Faktor lain mengatakan bahwa hoarding disorder muncul akibat dari cedera dan konsumsi alkohol atau obat terlarang, dimana aktivitas itu akan mempengaruhi kerja otak erta saraf. Keturunan atau genetik juga sangat berpotensi munculnya hoarding disorder.
source: pexels.com/Budget BizarIndikator untuk Mengatahui Hoarding Disorder
Hoarding disorder telah dikategorikan sebagai penyakit mental yang perlu penanganan. Dalam pemeriksaan, dokter dapat melakukan diagnosis hoarding disorder melalui Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5). Evaluasi terhadap pasien akan dilakukan secara bertahap melalui indikator-indikator tersebut.
Beberapa indikator yang ada pada DSM-5 adalah sebagai berikut:
Sulit memisahkan barang tanpa melihat prioritas nilainya.
Sering merasa stres saat harus memisahkan barang karena punya perasaan harus menyimpannya.
Sulit membuang barang yang menyebabkan tempat tinggal kotor. Jika area rumah bersih, itu artinya ada orang lain yang campur tangan dalam membersihkannya.
Kegiatan menimbun apakah sudah menganggu atau meresahkan hubungan dengan orang lain.
Kebiasaan menimbun barang telah merusak aktivitas dan menganggu lingkungan sekitar
Perilaku tidak disebabkan kondisi medis lain.
Gejala yang dialami tidak termasuk ke dalam gangguan kesehatan lain.
Menyempitnya ruang tempat tinggal akibat tertutup barang-barang
Perilaku yang dilakukannya serasa tidak mengganggu dan dianggap lumrah.
Dampak Hoarding Disorder bagi Orang Sekitar
Bagi pengidap hoarding disorder, menimbun barang sampai bertumpuk-tumpuk memang tidak masalah. Bagi mereka, ada kenyamanan tersendiri saat bisa menyimpan hal-hal yang dianggap berharga. Namun, perasaan ini tidak sama dengan orang-orang di sekitarnya, terkhusus yang tinggal serumah. Pandangan lain pun muncul, memicu keresahan karena sudah dirugikan oleh pengidap hoarding disorder.
Dampak paling nyata bagi orang di sekitar akibat hoarding disorder yaitu rasa tidak nyaman yang timbul karena sampah-sampah menumpuk. Penumpukan barang ini tidak hanya memenuhi ruang, tapi dapat merusak benda-benda lain, menyebarkan aroma tidak sedap, dan membuat mobilitas jadi terganggu. Hal ini juga dapat membuang hubungan antar keluarga renggang, pertengkaran bisa terjadi kapan saja, membuat retak, hingga terjadi perceraian. Di samping itu, sampah-sampah yang terbengkalai menutup akses keluar masuk ruang-ruang di rumah, berkaitan dengan penunjang aktivitas yang kurang. Belum lagi, timbunan sampah kemasan, pakaian kotor, serta barang-barang yang berpotensi memiliki ribuan kuman sangat mumpuni sebagai sarang penyakit. Kemungkinan kecelakaan juga besar terjadi di antara lingkungan yang kotor, berantakan, atau bau.
Tentu, hoarding disorder membawa dampak negatif untuk kehidupan banyak orang. Hanya saja, pengidapnya terkadang tidak menyadari kondisi itu dari awal, sebab biasanya mereka cednerung tertutup. Jika menilik dari kasus-kasus sebelumnya, lingkungan mengetahui adanya hoarding disorder setelah timbul kejadian-kejadian aneh, misalnya tercium aroma busuk, rumah yang selalu tertutup, dan area tempat tinggal tak rapi. Sayangnya, saat dicek bagian dalamnya lebih parah daripada yang dibayangkan.
source: pexels.com/Gustavo FringPenanganan Hoarding Disorder
Sebagai gangguan mental, seseorang dengan hoarding disorder bisa ditangani dengan beberapa terapi. Walaupun, hasilnya tidak bisa 100% hilang, karena hoarding disorder timbul dari perasaan dan berubah jadi kebiasaan. Setidaknya, perasaan untuk menimbun barang secara berlebihan bisa ditekan menggunakan solusi tertentu.
Pertama, penanganan melalui farmakoterapi atau terapi obat-obatan. Mengutip dari National Library of Medicine National Center for Biotechnology Information, saat ini obat yang dikembangnya polanya mirip pengobatan OCD. Pilihan yang paling umum seperti serotonin-selective reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-norepinerfin reuptake inhibitor (SNRI), juga stimulan lain yang diterapkan pada kelompok kecil individu. Obat-obatan ini termasuk golongan antidepresan yang dapat menekan perasaan cemas serta obsesif pasien. Walaupun begitu, tidak semua pasiesn dapat merespon baik penggunaan obat sebagai media terapi sebab tingkat keparahan dari gangguan yang dimilik.
Kedua, penanganan gangguan hoarding disorder dapat melalui psikoterapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Konsepnya masih sama seperti pengobatan OCD, tapi sudah dimodifikasi sesuai kebutuhan. CBT sendiri menekankan pada observasi dan motivasi pada pasien melalui serangkaian komponen yang berwujud tindakan. CBT punya dua komponen utama, yaitu kognitif dan perilaku. Lewat kognitif, pasien akan dibantu untuk fokus menghilangkan perasaan cemas untuk membuang barang. Sedangkan lewat tindakan, pasien akan dibantu dalam menyortir barang-barang secara bertahap agar dibuang.
Tidak lupa, dukungan sosial dapat mendorong pasien menuju ke arah yang lebih baik. Terus ingatkan dan bantu pasien hoarding disorder dalam mengolah emosinya. Bantu juga dalam mengorganisir barang-barangnya dalam rangka membentuk kebiasaan baru yang lebih positif.
Hoarding disorder tampaknya sepele, hanya sekadar tidak mau membuang barang. Namun, jika sudah berlarut-larut, dampaknya sangat besar dalam hidup. Tidak hanya diri sendiri yang dirugikan, tapi juga orang lain. Keadaan yang terus terjadi dapat menimbulkan masalah kesehatan atau sosial lebih buruk.
Baca juga: Serupa tapi Tak Sama, Kenali Perbedaan Cocktail dan Mocktail
Author: Asvi
Comments:
Leave a Reply