Brand Gawai Di Masa Lalu, Kesayangan Milenial yang Kini Mulai Tak Dikenal


Source: unsplash.com/camilo jiminez

Generasi di era kini mungkin lebih mengenal adanya android dan iOS sebagai dua system operasi yang digunakan pada gawai pintar. Ponsel cerdas dengan teknologi touch screen yang kini kian merebak seolah semakin mengubur tentang sejarah telepon genggam yang pernah berjaya, terutama di Indonesia. Brand-brand baru bermunculan menawarkan segudang fasilitas modern dengan harga terjangkau. Namun, sebelum itu, sebenarnya ada pendahulu-pendahulu yang punya popularitas dan tempat tersendiri di hati pengguna teknologi.

Samsung, Apple, bahkan Huawei mungkin adalah nama-nama yang kini tengah bersaing secara masif di kancah dunia sebagai penyedia device yang memenuhi stander kebutuhan manusia di masa globalisasi seperti sekarang. Tiga perusahaan raksasa tersebut mampu menciptkan inovasi yang gemilang hingga masih mampu bertarung. Walaupun, sebenarnya di masa lalu ada brand lain yang juga mengalami masa keemasan. Sayangnya, sekarang banyak dari merk itu hilang ditelan masa.

Mau tahu lebih jauh? Let’s check below!

Nokia, Si Raja Ponsel Dunia

Source: unsplash.com/Pavlo Talpa

Dulu, ada sebuah perusahaan asal Finlandia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi, teknologi informasi dan elektronik yang mendunia. Dibangun sejak tahun 1865, Nokia mmenciptakan puluhan produk ponsel yang tersebar ke seluruh penjuru. Pada awal 2000-an, Nokia menjadi merk dagang dengan penjualan nomor satu yang tidak dapat ditandingi. Saat itu, hampir semua orang menggunakan Nokia dalam berkomunikasi. Masih teringat dalam benak bahkan, iklan Nokia yang ikonik dengan dua tangan saling bersalaman.

Sayangnya di tahun 2013, Nokia menyatakan diri telah bangkrut, setelah diakuisisi oleh Microsoft. Tidak ada yang menyangka bahwa raja ponsel ini akan mengakhiri kariernya kurang lebih dua dekade setelah berjaya. Namun, kenyataannya Nokia memang punya banyak celah untuk bisa tergeser dengan produk lain yang semakin berkembang.

Menurut penelitian yang diadakan oleh Tim O. Vuori, seorang asistem professor manejemen strategi Universitas Aaltoo, dan Qui Huy, seorang professor dari INSEAD Singapura, ada beberapa hal mengapa Nokia bisa mengalami kemunduran hingga akhirny tutup. Dalam sebuah jurnal berjudul Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle, mereka mengungkapkan adanya budaya kerja yang kejam di perusahaan multinasional tersebut. Dari hasil wawancara terhadap 76 menejer level menengah, hampir seluruhnya mengatakan bahwa terdapat intimidasi dari menejer level atas karena tidak tercapainya target yang telah ditentukan.

Alasan lain mengapa Nokia bangkrut adalah tidak adanya inovasi mumpuni yang bisa menandangi ponsel pada saat itu, yaitu Apple. Perusahaan Apple dengan produk iphone berhasil menarik pasar di tahun 2007, membuat posisi Nokia tergeser. Saat itu, bagian petinggi justru tetap mempertahankan Symbian sebagai system operasi tanpa mau meningkatkan kualitas.

Sony Ericsson, Kolaborasi Antara Asia dan Eropa

Source: Google Image

Mungkin gen z dan gen alpha mengenal tentang adanya device dengan merk Sony. Namun, pernahkah mendengar brand Sony Ericsson? Perlu diketahui, Sony Ericsson pernah jadi pionir dalam sejarah gawai di Indonesia.

Sony dan Ericsson sebenarnya adalah dua merk yang berbeda. Sony merupakan perusahaan Jepang yang begitu piawai dalam mengembangkan multimedia. Sedangkan Ericsson adalah perusahaan tekonologi yang punya banyak produk, seperti penyedia jaringan dan ponsel. Sayangnya, Ericsson yang berbasis di Swedia ini mengalami penurunan penjualan karena adanya Nokia serta Motorola. Hingga pada akhirnya, Ericsson menggandeng Sony untuk bekerja sama membuat brand baru bernama Sony Ericsson.

Sony Ericsson mulai diperkanalkan pada tahun 2001. Seri pertamanya adalah W, singkatan dari Walkman, salah satu produk legendaris Sony yang dapat memutar multimedia. Pada masa itu, seri W begitu diminati dengan gitur pemutar music, yang dilengkapi dengan headset.

Sony Ericcson langsung unjuk gigi dengan teknologi yang dianggap lebih maju ketimbang pesaing lainnya. Suara yang jernih tanpa adanya gangguan sinyal menjadi nilai plus tersendiri di samping desain uniknya dan dianggap kekinian. Apalagi adanya fitur TrackID, dimana bisa mengenali lagu tanpa harus mengetahui namanya.

Kejayaan Sony Ericsson mulai meredup sekitar satu dekade kemudian. Sony memutuskan untuk mengakuisis Ericsson serta mengganti namanya menjadi Sony Mobile Communication dengan branding baru untuk gawainya, Sony Xperia. Ericsson akhirnya menutup karirnya di tahun 2012.

Siemens, Si Legenda dari Jerman

Source: Google Image

Ada merk lain di masa lalu yang dianggap sebagai produk badak karena ketahanan fisiknya selain Nokia, yaitu Siemens. Ponsel merk Siemens pun punya banyak penggemar karena bentuknya yang ramping dan kecil, tapi begitu kuat. Sayangnya, ponsel ini harus tutup usia di tahun 2005 silam.

Siemens bukanlah merk dagang baru. Perusahaan asal Jerman ini sudah beroperasi sejak tahun 1860-an, bergerak dalam berbagai bidang, salah satunya adalah tekonologi. Ponsel pertamanya diciptakan tahun 1985, lebih senior dibandingkan merk lain. Peringkat penjualannya di Indonesia sendiri cukup tinggi. Siemens masih berada di bawah tiga pesaing lainnya, di antaranya Nokia, Motorola, dan Ericsson.

Sayangnya, perjalanan Siemens terus menurun di tahun 2004. Penjualan menurun dan mereka mengalami ratusan juta dolar. Mereka pun berusaha menyelamatkan perusahaan dengan memperkenalkan sebuah inovasi ponsel mewah yag akhirnya tetap dianggap tidak ada perbedaan dari seri lainnya. Sampai tahun 2005, Siemens dijual pada BenQ.

Siemens masih terus berjalan dengan nama baru, BenQ-Siemens. Ponsel-ponsel masih terus diproduksi tanpa memikirkan laju trend yang semakin dibutuhkan masyarakat. Perusahaan ini dianggap lelet dalam mengikuti perkembangan zaman, sehingga produknya kelihatan jadul. Tidak ada perkembangan yang signifikan, akhirnya BenQ-Siemens pun ikut tutup selamanya tak lama dari proses akuisisi.

BlackBerry, Gawai Trendi Generasi Milenial

Source: unsplash.com/Randy Lu

Peminat iphone dan android saat ini kian melesat. Banyak orang yang berlomba membeli produk ini untuk alasan fitur hingga gengsi. Hal tersebut sama seperti ketika BlackBerry berjaya. Merk dagang ponsel ini begitu popular pada masanya.

BlackBerry adalah ponsel yang memberikan inovasi dengan memperkenalkan fasilitas e-mail, telepon, hingga SMS. Semakin eksklusif, mereka memiliki ruang tersendiri yang selanjutnya disebut sebagai BlackBerry Messenger . Perusahaan asal Kanada ini begitu meraih kesuksesan di tahun 2000-an.

BlackBerry juga memberikan keunikan lain dengan adanya fitur keyboard qwerty. Desain papan ketik yang lebih lebar dan disamakan dengan computer ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengguna gawai. Di sisi lain, BlackBerry memiliki operasi system yang lebih mumpuni, multimedia yang lengkap, serta visual kekinian. Anak-anak muda zaman itu rasanya akan rugi jika tidak memiliki BlackBerry.

Perusahaan dagang BlackBerry akhirnya menarik diri dari pasar pada tahun 2016 karena tidak kuat bersaing dengan iphone serta android yang saat itu pun tengah mengalami perkembangan pesat. Namun, perusahaan ini tidak lantas bangkrut sia-sia. Mereka fokus pada perangkat lunak dan keamanan siber yang digunakan pada smart car.

Di tahun 2024 dan 2025 ini, banyak orang kembali menggali kesuksesan BlackBerry. Seri ponsel ini dikatakan akan kembali rilis, meskipun tidak menggunakan system operasi lamanya, melainkan android. Walaupun demikian, desain fisik yang disukai sekiranya tetap dipertahankan.

Nah, itu dia beberapa merk gawai yang kini mulai terlupakan. Padahal, di masa lalu persaingan antar produk begitu kental dan intens. Mereka berbondong-bondong memberikan yang terbaik untuk para pelanggan. Naas, ketidakmampuan dalam mengikuti perkembangan teknologi membuatnya mundur dan akhirnya menghilang. Kini, dunia ponsel telah menjelma jadi lebih cerdas dengan penguasa terbesarnya adalah android serta iphone.

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...