Sering Jadi Tujuan Wisata, Ketahui Fakta Unik Yogyakarta yang Bikin Jadi Lebih Istimewa!


source: pinterest.com/sar


Daerah Istimewa Yogyakarta jadi lokasi yang ramai dikunjungi banyak wisatawan di kala musim liburan, termasuk Lebaran kemarin. Berbagai kalangan mengunjungi tempat ini dengan alasan pulang kampung atau sekadar main-main menghabiskan waktu luang. Kawasan ini pun sudah sejak dulu jadi primadona untuk para turis asing, setelah Pulau Dewata. 

Yogyakarta memang punya alam yang menarik, mulai dari gunung sampai pantai, mulai dari pedesaan sampai padat merayap pusat kota. Yogyakarta pun kaya akan budaya, seperti seni, tingkah laku, dan kuliner yang jadi sasaran tiap orang. Namun, nyatanya Yogyakarta tidak hanya cantik dari luarnya, sebab terdapat fakta menarik seputar daerah ini yang bisa diketahui. 

Apa saja? Yuk, coba cek di bawah!

Bentuk Pemerintahan Istimewa

Nama resmi dari provinsi ini adalah Daerah Istimewa Yogyakarta yang pada akhirnya disingkat menjadi DIY atau DI Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, penyematan nama 'daerah istimewa' ini bukan tanpa alasan, karena di Indonesia sendiri dulu tidak banyak yang mendapatkan predikat demikian. Ada cerita yang melatarbelakangi nama itu. 

Sebutan 'daerah istimewa' ini diberikan dengan alasan sejarah yang begitu panjang di masa lalu. Yogyakarta pada dasarnya merupakan wilayah berbentuk kerajaan yang berhulu dari Mataram Islam. Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII, Yogyakarta bergabung juga mendukung penuh kemerdekaan Indonesia melalui amanat yang disampaikan tanggal 5 September 1945. Dari sana, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari NKRI, diakui secara pemerintahan, sejarah, serta budayanya. Adapun hak-hak istimewa yang diberikan, seperti Raja adalah Kepala Pemerintahan dipilih menggunakan sistem monarki. Jadi, meskipun sudah jadi provinsi dari negara berbentuk Republik, Yogyakarta tetap punya kedaulatannya sendiri sebagai kerajaan yang berhak mengatur jalannya proses kenegeraan di daerahnya. 

Baca juga: Dampak Silent Treatment Pada Pasangan, Jangan Dianggap Sepele!

Tidak Ada Kecamatan di Yogyakarta

Di Indonesia, pemerintahan dibagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari pusat, daerah provinsi, kabupaten, kecamatan, dan yang terkecil adalah desa. Namun, di Yogyakarta berbeda, sebab Anda tidak akan bisa menemukan istilah kecamatan di provinsi tersebut. Ada perubahan yang dilakukan oleh Gubernur terkait keistimewaan yang diberikan pada Yogyakarta. 

Semua berawal dari Peraturan Gubernur DIY No. 25 Tahun 2020 silam tentang peralihan sebutan daerah administrasi setingkat kecamatan dan desa di wilayah DIY. Istilah kecamatan ini diubah menjadi kapanewon, dimana pemimpinnya adalah seorang panewu. Kapanewon sendiri berada di 4 kabupaten, yaitu Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunung Kidul. Sedangkan untuk Kota Yogyakarta yang berbentuk kota madya, setingkat kecamatan disebut kemantren dengan pemimpin mantri pamong praja. Lalu, desa diganti jadi kalurahan yang dipimpin oleh seorang lurah.

Punya Garis Imajiner yang Diakui Dunia

Selain terkenal akan budaya yang sudah mendunia, Yogyakarta punya satu lagi hal unik yang mungkin tidak dimiliki wilayah lain, baik di Indonesia sendiri atau pun negara lain. Namaya Sumbu Filosofi Yogyakarta, sebuah garis imajiner yang dipercaya menghubungkan titik dari Pantai Selatan sampai Gunung Merapi dan Panggung Krapyak sampai Tugu Paal Putih, dengan Kraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Sumbu Filosofi pun telah terdaftar di UNESCO dengan sebutan "The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks" pada tahun 2023 lalu. 

Sumbu Filosofi Yogyakarta digagas pertama kali oleh raja pertama Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi, yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Konsep ini merupakan kombinasi, keselarasan dan harmonisasi antara manusia, Tuhan, alam semestra, juga siklus kehidupan dari lahir sampai kembali ke asalnya. Melalui Sumbu Filosofi ini, tumbuhlah tata ruang Yogyakarta seperti sekarang. Terdapat 3 filosofi mendalam yang tersirat dalam garis imajiner ini, yaitu sangkan paraning dumadi atau proses kehidupan manusia dari awal sampai akhir, manunggaling kawula Gusti atau ketaatan manusia sebagai makhluk Tuhan, serta hamemayu hayuning bawana atau proses menjaga serta mempercantik alam semesta.


source: pinterest.com/

Punya Wilayah Loji

Indonesia pernah mengalami penjajahan selama ratusan tahun lamanya, bahkan setelah merdeka di tahun 1945, rakyat masih harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Tak luput jua Yogyakarta yang pernah disambangi oleh kolonial. Namun, karena penjajahan itu terdapat akulturasi budaya yang cukup kental di wilayah Yogyakarta, utamanya di Kota Yogyakarta. Salah satunya yaitu tipe bangunan.

Jika diperhatikan, di daerah Kota Yogyakarta punya bentuk bangunan dengan arsitketur indische yang punya karateristik khas. Hal tersebut bisa diketahui secara gamblang dari dominasi warna putih, jendela besar, dan atap tinggi. Pada masa lalu, wilayah ini dibagi jadi beberapa kelompok loji atau bangunan. Sebutan loji dikenal saat kolonialisme Belanda berkuasa. Tepatnya ada loji besar yang bangunannya ada di sekitar Benteng Vredeburg, Bank BNI, dan Kantor POS Besar Yogyakarta. Lalu ada loji kecil yang berada di kawasan Taman Budaya Yogyakarta. Ada juga loji alasa yang kini jadi Istana Kepresidenan. Terakhir loji setan yang sekarang dipakai sebagai  gedung DPRD Provinsi DIY. Selain itu, bangunan indische masih bisa ditemukan di wilayah Kotabaru, Tamansiswa, Jalan Bintaran, dan wilayah yang berdekatan dengan kawasan itu.

Titik Nol Kilometer

Pernahkah Anda terpikir sebenarnya mengapa Yogyakarta punya Titik Nol Kilometer dan di mana letaknya?

Kalau berbicara tentang titik nol, secara logika tentunya Pulau Weh, di Aceh adalah jawabannya. Namun, di Yogykarta juga punya titik nol, lho. Bahkan lokasi ini begitu popular, sehingga banyak turis datang kemari untuk berwisata. Padahal, konsep titik nol ini terkadang belum diketahui oleh khalayak umum. Biasanya, arah yang akan dituju adalah perempatan loji besar selatan Jalan Malioboro. 

Titik Nol di Yogyakarta bukan titik pertama di daerah ini, melainkan adalah titik tarik untuk menghitung ongkos perjalanan surat dari POS Besar Yogyakarta. Dulu, surat-surat yang dikirim oleh orang dari seluruh wilayah Yogyakarta akan dibawah ke kantor POS yang berlokasi di Kota Yogyakarta, belum berpindah sampai sekarang. Agar memudahkan menghitung ongkos karena menggunakan jarak, maka titik mulanya diambil dari lokasi kantor POS itu sejauh alamat tujun suarat. Jadi, jika ditanya di mana letak Titik Nol Kilometer Yogyakarta, jawabannya adalah Kantor POS Besar Yogyakarta.

Punya Pusaka yang Begitu Beragam

Sebuah kerajaan umumnya memiliki pusaka yang dijaga dengan sepenuh hati. Di Yogyakarta sendiri, terdapat ratusan pusaka yang masih terjaga sampai sekarang. Rakyatnya pun boleh menyaksikan beberapa koleksi secara langsung atau melalui lembaga. 

Yogyakarta punya banyak pusaka yang tersimpan secara berkelompok, ada yang dijaga privasinya, ada yang memang dibuka untuk umum. Untuk pusaka utama, disimpan di Gedhong Prabayeksa dengan akses terbatas. Ada juga kereta kencana yang disimpan di Museum Kereta Kraton, di barat Plataran Sitihinggil Lor. Ada yang disimpan dan dikeluarkan setiap momen tertentu, seperti gamelan. Namun, ada juga yang ditunjukkan secara langsung pada masyarakat, seperti pohon beringin di Alun-Alun Utara dan Selatan, serta hewan gajah di Kebun binatang Gembiraloka. Ada juga pusaka yang berada di Makam Raja Mataram berupa enceh atau gentong air. Hal yang sama dilakukan adalah jamasan pusaka setiap bulan Muharram atau Sasi Sura tepatnya malam Selasa Kliwon. 

Nah, itu dia fakta menarik tentang Yogyakarta dengan sematan istimewa pada namanya. Ternyata, bukan hanya wisatanya saja yang menarik dan cantik, tapi ada cerita unik di balik semua yang tersaji. Anda jadi bisa lebih enjoy mengetahui seluk beluk provinsi ini ketika berkunjung.

Baca juga: Cukup Lakukan Cara Ini Bisa Bantu Anda Agar Tidak Malas Berolahraga

Author: Asvi


Comments:

Leave a Reply

you may also like

...