Tentang PMS, Datang Dalam Siklus yang Harus Diorganisir


source: Magnific.com


Premenstrual Syndrome atau dikenal sebagai PMS merupakan kondisi yang lumrah dilami perempuan setiap bulan. Mengutip dari berbagai sumber, premenstrual syndrome adalah sebuah gejala yang meliputi perubahan fisik, emosional, serta tingkah laku pada rentang waktu antara 7-10 hari sebelum haid terjadi. Kondisi ini akan berubah lebih baik setelah darah menstruasi keluar. Gejala seperti apa yang dirasakan sebenarnya cukup variatif, ada yang ringan, misalnya kembung, pusing, dan perut nyeri, tapi ada juga yang berat sampai menimbulkan depresi, sakit luar biasa, dan ketidakmampuan bergerak normal.

Penyebab PMS

source: pexels.com/Andrea Piacquiadio

Sampai sekarang, belum ada yang mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan PMS itu terjadi pada perempuan. Hal ini disebabkan aktivitas PMS tidak dialami oleh semua perempuan, tapi kejadiannya memang lumrah. Walaupun demikian, banyak ahli menyimpulkan penyabab PMS yaitu adanya perubahan hormon serta zat kimia pada otak. 

Hormon yang berperan dalam PMS di antaranya adalah estrogen serta progesteron. Kedua hormon ini diketahui mengalami ketidakseimbangan. Dalam fase menstruasi, ada waktu dimana kadar hormon estrogen meningkat karena kadar endofin dalam otak yang bekurang. Endorfin merupakan zat yang mampu menciptakan rasa senang. Namun, ketika masa luteal, progesteron akan lebih tinggi, membuat suasana hati yang lebih berantakan atau depresi berlebihan. Maka dari itu, mood swing tercipta setiap kali akan memulai fase siklus bulanan perempuan. 

Gejala PMS

source: pexels.com/www.kaboompics.com

PMS memang tidak selalu dialami oleh perempuan, ada pun orang-orang yang mengalami siklus bulanan tanpa merasakan sakit berlebih. Gejala yang dirasakan berbeda-beda. Jika diurutkan mungkin bisa mencapai 150 macam keluhan yang dialami, sehingga terkadang sulit diidentifikasi untuk meminimalisir risiko. Namun, umumnya bisa diklasifikasikan seperti di bawah ini. 

Pertama, gejala fisik yang memberikan perubahan dan gangguan kerap dikeluhkan. Gejala fisik ini meliputi rasa sakit kepala, nyeri punggung, pembengkakakn pada payudara, nyeri perut, dan nyeri otot. Rasa sakit ini bisa datang satu per satu, salah satu, atau bersamaan sekali waktu. Pada masa PMS, perempuan kadang mengalami penumbuhan jerawat akibat dari produksi minyak berlebih. Napsu makan bertambah, yang membuat peningkatan berat badan bertambah. 

Baca juga: Kaya Akan Serat, 5 Buah yang Cocok Dikonsumsi untuk Balita

Kedua, gejala psikologis atau emosional pun cukup beragam. Proses PMS ini memang melibatkan beberapa hormon yang bekerja dalam tubuh, seperti estrogen dan progesteron, dimana kedua hormon itu memiliki peran penting dalam menciptakan rasa senang atau depresi seseorang. Saat PMS sebab ketidakseimbangan hormon itu membuat orang jadi mood swing, perasaan berubah-ubah setiap waktu, kadang marah, tiba-tiba sedih, mendadak depresi, dan sebagainya. Fase ini juga menyebabkan orang jadi lebih cemas, bingung, lupa, serta gelisah. Jadi, secara emosi, perempuan PMS akan lebih labil daripada biasanya. 

Ketiga, gejala perilaku bisa sangat terlihat karena dapat mengganggu pekerjaan sehari-hari. PMS menyebabkan seseorang lebih lelah. Rasa lelah ini bisa terjadi karena keluhan sakit yang dirasakan, insomnia, atau perubahan mood yang tak menentu. Konsentrasi juga dapat menurun, sehingga pekerjaan tidak selesai tepat waktu. Tak jarang mereka menarik diri dari pergaulan karena merasa kecil hati. 

Pengelolaan PMS

source: pexels.com/Engin Akyurt

PMS memang tidak bisa didiagnosa secara pasti. Pertolongan pada PMS juga hanya bisa dilakukan sesuai keluhan yang dirasakan, itupun harus mempertimbangkan keputusan dari dokter atau hali medis dalam pemberian obat. Oleh karena itu, satu-satunya langkah bijak adalah mengurangi gejala PMS  yang dapat dilakukan. Beberapa di antaranya seperti di bawah ini.

PMS dapat dikelola dengan mengubah gaya hidup jadi lebih teratur. Pertama dari pola makan yang harus dijaga. Usahakan selalu konsumsi jenis makanan yang mengandung nutrisi seimbang, khususnya vitamin V, E, kalium, zat besi, serta magnesium. Saat PMS, konsumsi buah-buahan dan sayuran segar agar rasa sakitnya dapat diorganisir. Untuk mengurangi dampak dari perasaan murung, bisa mengonsumsi vitamin B6 atau makanan yang mengandung zat tersebut. Bagi penyuka kafein, ada baiknya mengurangi minum kopi dan teh berlebihan, tetap pada takaran atau berhenti dulu selama masa PMS. 

Pola makan ini harus diimbangi dengan olahraga atau latihan fisik. Diketahui, manfaat dari olahraga adalah mengurangir asa sakit yang tidak karuan karena PMS. Melalui olahraga, rasa stres juga bisa terilis secara positif karena menghasilkan endorfin serta menurunkan estrogen. Namun, aktivitas fisik ini tidak boleh berlebihan dilakukan. Lakukan sewajarnya, sesuai kemampuan yang dimiliki. Misalnya dengan melakukan jalan, jogging, atau peregangan ringan setiap hari, paling tidak 3-5 kali dalam seminggu. Jika menganggu pekerjaan, olahraga ini bisa dilakukan sebelum atau setelah bekerja dengan durasi waktu 20-30 menit sehari. 

Gejala PMS jika sudah sakit tidak tertahan bisa diatasi dengan terapi obat atau metode farmakologi. Penggunaan obat ini bisa dilakukan bila rasa sakitnya sudah tidak tertahan. Beberapa obat yang dapat digunakan sesuai anjuran dokter di pereda rasa sakit, obat penenang, dan antidepresan. Namun, obat-obat ini hanya bisa dikonsumsi sesuai dosis, bahkan ada yang harus menggunakan resep dokter. Paling umuma dalah asam mefenamat yang mampu mengurangi rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, tapi tidak disarankan bagi yang sensitif dengan apirin. Obat ini bisa ditemukan di apotek terdekat. Kalau sudah sampai ke ranah kecemasan, biasanya ada resep khusus yang harus dipantau oleh dokter spesialis. Obat penenang serta antidepresan termasuk obat keras, sehingga tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan. 

Pengelolaan PMS berikutnya adalah menghentikan aktvitas merokok serta konsumsi alkohol. Rokok dibuat dari berbagai bahan yang mampu memicu penurunan kualitas hidup seseorang. Rokok tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tapi juga merusak organ reproduksi, khususnya pada perempuan. Bisa diperhatikan, siklus menstruasi perempuan biasanya tidak teratur, durasinya berbeda-beda, bahkan memicu menopause dini. Selain itu, merokok dapat menimbulkan gejala PMS lebih parah. Jadi, kegiatan ini sebaiknya harus dihentikan saja untuk kebaikan diri sendiri. Sedangkan alkohol punya efek yang sama. Alkohol jika dikonsumsi dalam jumlah besar hanya akan membuat tubuh jadi sakit. Alkohol memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Untuk reproduksi sendiri, alkohol dapat membuat vagina kering serta mood berantakan. Alkohol pun memicu bergejolaknya hormon estrogen. Di samping itu, alkohol dapat membuat kembung. 

Terakhir adalah beristirahat yang cukup. Memang, terkadang banyak penolakan yang terjadi ketika seseorang disuruh istirahat ketika sedang menstruasi atau PMS. Namun, cara ini memang benar dilakukan. Saat PMS, memang disarankan untuk tidak melakukan banyak pekerjaan berat, mengingat perubahan fisik, emosional,serta perilaku yang mempengaruhi aktivitas. Kemudian konsumsi air lebih banyak agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Walaupun demikian, air belum tentu bisa meringankan gejala PMS beat. 

PMS adalah sesuatu yang berdampingan dengan kehidupan perempuan. PMS bisa datang kapan saja pada kurun waktu sebulan sekali, mengikuti siklus yang dimiliki. PMS tidak bisa diobat, hanya dapat diringankan gejalanya agar tidak terlalu sakit. Oleh sebab itu, saat mengalami PMS, selalu perhatikan kesehatan diri sendiri dan terapkan pola hidup sehat setiap hari.

Baca juga: Romantisnya Senja dari Obelix Hills, Yogyakarta

Author: Asvi

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...