Tips Bekerja dengan Efisien Bagi Kamu yang Sulit Fokus dan Suka Multitasking


source: Google Image


Dunia kerja modern menuntut kita untuk bisa bergerak cepat, menyelesaikan banyak hal sekaligus, dan tetap menghasilkan kinerja maksimal. Namun, tidak sedikit orang yang merasa kewalahan karena kesulitan fokus dan terbiasa melakukan multitasking. Padahal, meski terdengar produktif, multitasking justru sering membuat energi terkuras lebih cepat, hasil kerja tidak optimal, bahkan memicu stres.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh American Psychological Association, otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Perpindahan fokus yang terlalu sering dari satu tugas ke tugas lain justru bisa mengurangi efektivitas hingga 40 persen. Fakta ini membuktikan bahwa bekerja lebih lama tidak selalu berarti lebih produktif.

Lalu, bagaimana caranya agar kamu yang sulit fokus atau suka multitasking tetap bisa bekerja dengan efisien? Berikut beberapa tips yang dapat membantu, terutama bagi generasi muda yang kerap menghadapi tantangan serupa di dunia kerja digital.

1. Pahami Pola Kerja Dirimu Sendiri

Langkah pertama untuk bekerja lebih efisien adalah memahami kapan tubuh dan pikiran berada pada kondisi paling prima. Ada orang yang merasa lebih produktif di pagi hari, sementara sebagian lain justru lebih fokus saat malam. Mengenali ritme biologis ini sangat penting untuk menentukan kapan sebaiknya kamu mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Baca juga: Punya Tubuh Ideal, Simak 5 Tips Memulai Gym atau Angkat Beban, Cocok untuk Pemula

Bagi pekerja yang mudah terdistraksi, sangat disarankan untuk mengalokasikan jam-jam terbaik itu untuk pekerjaan inti. Misalnya, menulis laporan di pagi hari sebelum tenggelam dalam rapat, email, atau notifikasi media sosial. Dengan cara ini, kamu bisa menyelesaikan pekerjaan penting lebih cepat dan dengan kualitas yang lebih baik.

2. Terapkan Teknik Pomodoro atau Time-Blocking

Banyak orang yang sulit fokus karena terlalu lama menatap layar tanpa jeda. Untuk mengatasinya, metode Pomodoro bisa menjadi solusi. Teknik ini mengajarkan kamu untuk bekerja selama 25 menit penuh, kemudian istirahat singkat 5 menit. Setelah empat siklus, berikan waktu istirahat lebih panjang, sekitar 15 – 30 menit.

Alternatif lainnya adalah metode time-blocking, yakni menjadwalkan pekerjaan dalam blok waktu tertentu di kalender. Misalnya, satu jam penuh untuk riset, satu jam berikutnya untuk mengerjakan presentasi, dan seterusnya. Metode ini mencegah kamu terjebak dalam multitasking, sekaligus melatih disiplin untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai rencana.

3. Prioritaskan Tugas dengan Sistem “Eisenhower Matrix”

Bagi yang sering kebingungan harus mengerjakan yang mana dulu, Eisenhower Matrix bisa menjadi senjata ampuh. Metode ini membagi tugas menjadi empat kategori:

  • Penting dan mendesak → harus segera dikerjakan.

  • Penting tapi tidak mendesak → jadwalkan.

  • Tidak penting tapi mendesak → delegasikan jika memungkinkan.

  • Tidak penting dan tidak mendesak → bisa ditunda atau diabaikan.

Dengan sistem ini, kamu bisa fokus pada tugas yang benar-benar berdampak besar terhadap pekerjaan, bukan sekadar sibuk dengan hal-hal kecil yang menyita waktu.

4. Kurangi Distraksi Digital

Salah satu penyebab utama sulit fokus adalah distraksi digital, mulai dari notifikasi media sosial, chat grup kantor, hingga godaan membuka aplikasi hiburan. Menurut riset dari Harvard Business Review, setiap kali seseorang terganggu oleh notifikasi, dibutuhkan rata-rata 23 menit untuk kembali fokus sepenuhnya.

Tips sederhana untuk mengurangi distraksi adalah dengan menonaktifkan notifikasi non-urgent saat jam kerja, menggunakan aplikasi focus mode, atau memanfaatkan fitur do not disturb di smartphone dan laptop. Selain itu, tentukan waktu khusus untuk mengecek pesan agar kamu tidak tergoda untuk membuka aplikasi setiap beberapa menit sekali.

source: Google Image

5. Belajar Berkata “Tidak” pada Multitasking

Multitasking sering dianggap keren, padahal sebenarnya bisa menurunkan kualitas kerja. Cobalah mulai mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Saat sedang menulis laporan, jangan tergoda membuka email baru. Saat berada di rapat, jangan sambil membalas chat pribadi.

Menurut pakar produktivitas Cal Newport, penulis buku Deep Work, kualitas pekerjaan terbaik lahir dari fokus mendalam pada satu hal. Dengan berani berkata “tidak” pada multitasking, kamu justru bisa menghasilkan pekerjaan yang lebih bernilai dan selesai lebih cepat.

6. Gunakan Alat Bantu Produktivitas

Di era digital, banyak aplikasi yang bisa membantu mengelola fokus dan produktivitas. Contohnya, Trello, Notion, atau Asana untuk mengatur proyek dan tugas; Forest atau Focus To-Do untuk melatih konsentrasi; hingga aplikasi kalender digital untuk mengatur jadwal.

Memanfaatkan teknologi bukan berarti membuat hidup lebih ribet, justru bisa menjadi pendukung utama agar pekerjaan terasa lebih ringan. Namun, ingat untuk tidak terjebak dalam “terlalu banyak aplikasi” yang malah membuang waktu. Pilihlah satu atau dua aplikasi utama yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

7. Istirahat yang Cukup dan Pola Hidup Sehat

Efisiensi kerja bukan hanya soal teknik, tapi juga kondisi tubuh. Kurang tidur, kurang minum, atau melewatkan waktu makan bisa membuat energi cepat habis dan konsentrasi menurun drastis. Riset National Sleep Foundation menyarankan orang dewasa tidur minimal 7–9 jam setiap malam agar otak bisa bekerja optimal.

Baca juga: Kenali Tinted Sunscreen dan Segudang Manfaatnya

Selain tidur, olahraga ringan juga membantu menjaga stamina. Cukup lakukan peregangan setiap satu jam sekali atau berjalan sebentar untuk menyegarkan pikiran. Jangan remehkan juga pentingnya hidrasi, karena dehidrasi ringan saja bisa membuatmu cepat lelah dan sulit berpikir jernih.

8. Evaluasi dan Refleksi Harian

Kunci bekerja efisien adalah konsistensi. Luangkan 5–10 menit setiap akhir hari untuk mengevaluasi apa saja yang sudah berhasil kamu lakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki. Catat hal-hal kecil ini dalam jurnal kerja atau aplikasi catatan.

Dengan evaluasi rutin, kamu bisa menemukan pola yang membuatmu mudah terdistraksi, lalu memperbaikinya di hari berikutnya. Refleksi ini juga akan membuatmu lebih peka terhadap cara kerja yang paling sesuai dengan dirimu sendiri.

9. Bangun Lingkungan Kerja yang Nyaman

Lingkungan kerja juga sangat memengaruhi fokus. Meja yang berantakan, kursi yang tidak ergonomis, atau ruangan yang terlalu bising bisa menjadi pemicu kelelahan. Jika memungkinkan, ciptakan ruang kerja yang nyaman, dengan pencahayaan cukup dan peralatan yang mendukung produktivitas.

Bagi pekerja remote atau freelancer, bisa mencoba bekerja di co-working space atau kafe yang tenang. Sementara bagi karyawan kantor, mungkin bisa mendiskusikan kebutuhan ergonomi dengan perusahaan agar produktivitas bersama lebih terjaga.

Bekerja dengan efisien bukan berarti harus bekerja lebih keras atau lebih lama, melainkan lebih pintar. Bagi kamu yang sulit fokus dan suka multitasking, kuncinya adalah belajar mengelola energi, waktu, serta perhatian dengan bijak. Mulai dari memahami pola kerja pribadi, menerapkan teknik manajemen waktu, mengurangi distraksi digital, hingga menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.

Pada akhirnya, efisiensi kerja adalah soal keseimbangan: kapan harus fokus penuh, kapan perlu beristirahat, dan kapan harus berkata “tidak” pada hal-hal yang mengganggu. Dengan menerapkan tips-tips ini secara konsisten, kamu tidak hanya akan bekerja lebih produktif, tetapi juga bisa menjaga kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang.

Baca juga: Khawatir Dengan Kondisi Finansial? Berikut Cara Tepat Berdiskusi Dengan Pasangan Soal Keuangan

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...