Kenali 3 Tipe Diabetes, Bisa Serang Siapa Saja!


Source: unsplash.com/Sweet Life

Diabetes adalah salah satu penyakit yang cukup mematikan. Disebut sebagai silent killer, diabetes menempati urutan ketiga sebagai penyakit berbahaya di Indonesia. Sedangkan dilansir dari World Health Organization (WHO) mengatakan diabetes ada di urutan kelimat dunia. Jadi, bisa dibayangkan seberapa mengerikannya penyakit ini. 

Penyebab diabetes disebabkan oleh kadar gula atau glukosa yang tinggi karena insulin tidak bisa diproduksi secara maksimal. Penderita diabetes tidak dapat mengubah gula menjadi energi, sehingga hanya menumpuk di darah. Bila terjadi dalam jangka waktu lama maka bisa memberikan komplikasi pada jantung, ginjal, mara, saraf, dan lain-lain. Lebih parahnya, diabetes belum ada obatnya. 

Diabetes dibagi menjadi tiga jenis sesuai karateristiknya masing-masing. Diabetes tidak pandang bulu, bahkan anak-anak dan remaja bisa terserang diabetes karena faktor tertentu. Selain keturunan genetik, diabetes pun dapat timbul karena gaya hidup yang tidak sehat. 

Yuk, simak jenis-jenis diabetes agar Anda lebih waspada di bawah ini!

Diabetes Tipe 1



Source: unsplash.com/Sweet Life

Diabetes Tipe 1 merupakan kondisi autoimun dimana pankreas tidak bisa memproduksi insulin secara maksimal. Penderita Diabetes Tipe 1 memerlukan penggaanti insulin yang harus digunakan seumur hidup. Tanpa adanya insulin, pasien Diabetes Tipe 1 akan mengalami hiperglikemia atau glukosa menumpuk dalam darah secara berlebihan. Jadi, Diabetes Tipe 1 memang perlu pegawasan, pemantauan, dan keteraturan dalam perawatan. 

Perlu diketahui, Diabetes Tipe 1 lebih sering dialami oleh anak-anak atau remaja. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa orang tua dapat terhindar, hanya jarang saja. Jutaan orang mengidap penyakit ini dan harus melakukan pengobatan seumur hidupnya. 

Belum diketahui apa penyebab dari Diabetes Tipe 1 hingga kini. Kesimpulan paling umum yang dapat diketahui oleh masyarakat yaitu saat sel tubuh menyerang pankreas pembuat insulin, meskipun tidak ditemukan mengapa hal itu bias terjadi. Dugaan pertama adalah genetika, tapi ada juga yang berpendapat akibat dari pola hidup tidak sehat. 

Gejala kemunculan Diabetes Tipe 1 bisa diketahui lebih awal. Seseorang dengan gangguan kesehatan tersebut lumrahnya akan merasa haus secara berlebihan, sering buang air kecil. banyak makan, penurunan berat badan, kelelahan, hingga infeksi serta lambatnya penyembuhan luka. Kondisi ini bisa terjadi dalam kurun waktu tertentu dan akan memburuk setahap demi setahap. 

Langkah pengobatan satu-satunya adalah dengan memberikan insulin sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter. Selain itu, pola makan harus dijaga untuk mengatur glukosa dalam darah. Gaya hidup sehat, seperti olahraga, istirahat cukup, serta penglolaan stres juga perlu diterapkan untuk menjaga tubuh agar tetap prima. 

Insulin yang dimasukkan ke dalam tubuh memiliki beberapa jenis popular. Pasien dapat dapat menggunakan suntikan secara manual atau memilih alat berbentuk pena yang lebih praktis dan mudah dibawa. Ada insulin jenis pompa yang menggunakan tabung kecil di bawah kulit, cara kerjanya mirip dengan pankreas. Jenis lainnya adalah insulin inhalasi yang punya cara kerja seperti inhaler pada pasien asma. 

Diabetes Tipe 2



Source: unsplash.com/haberdoedas

Tipe diabetes berikutnya adalah Diabetes Tipe 2 yang memiliki penyebab serta karakteristik berebda dari tipe pertama. Jenis ini lebih sering dialami, terutama bagi orang dewasa. Kondisi ini terjadi karena kelainan tubuh dalam menggunakan hormon insulin atau resistensi terhadap insulin. Akibatnya, gula darah tidak bisa diolah menjadi energi secara maksimal dan menumpuk di dalam darah. Jika terus menerus diabaikan, Diabetes Tipe 2 akan memberikan komplikasi pada organ lain, seperti mata, ginjal, hingga jantung. 

Penyebab dari Diabetes Tipe 2 sudah ditentukan, yaitu ketidakmampuan tubuh dalam mengolah gula darah menggunakan insulin. Faktor pendukung terjadinya diabetes tipe ini antara lain faktor keturunan, obesitas, mengonsumsi makanan serta minuman dengan gula tinggi, kurang aktivitas, dan beberapa kondisi khusus. Pasien Diabetes Tipe 2 lumrahnya akan mengalami sejumlah gejala yang bisa dirasakan secara berkala atau terus menerus. 

Tidak bisa ditentukan bagaimana waktu bisa membuat seseorang mengalami gejala Diabetes Tipe 2. Pada beberapa kasus, pasien bisa saja tidak menyadari akan penyakit tersebut dan baru ketahuan ketika sudah terjadi komplkasi. Gejala-gejala yang bisa muncul seperti kesemutan, pengelihatan kabur, dan luka sulit sembuh. 

Sama seperti tipe diabetes yang lain, Diabetes Tipe 2 ini tidak bisa disembuhkan atau belum ditemukan obatnya. Hanya saja, pasien bisa diberikan obat atau terapi insulin seumur hidup untuk membantu menyetabilkan kondisi tubuh. Di samping itu, usaha yang bisa digunakan untuk menegah atau mengurangi dampak dari diabetes bisa dilakukan, mulai dari menjaga pola makan, menurunkan berat badan, olahraga secara teratur, serta hindari makanan atau minuman dengan gula serta lemak tinggi. 

Perlu diperhatikan juga bahwa Diabetes Tipe 2 dapat memberikan komplikasi pada organ tubuh lains seiring berjalannya waktu. Diabetes mampu membuat penyempitan pembuluh darah sehingga akan menyababkan penyakit jantung. Dampak lain dapat terasa pada saraf kaki dan tangan, dimana mereka akan kehilangan kemampuan, merasa nyeri, kesemutan, dan lain-lain. Adanya gula darah pun dapat memberikan pengaruh negatif pada ginjal, sehingga pasien bisa jadi melakukan pengobatan ginjal seumur hidup. Organ lain yang akan terdampak seperti mata, pendengaran, dan saraf-saran lain. 

Diabetes Gestasional



Source: unsplash.com/Anna Hecker

Jenis diabetes berikutnya ialah Diabetes Gestasiona. Sedikit khusus, diabetes jenis ini bisa terjadi pada ibu hamil saja dan dapat diketahui pada trismester kedua atau ketiga. Kondisi ini disebabkan karena tubuh tidak mampu mengolah gula darah karena terhambatnya produksi insulin. Akibatnya pasien akan mengalami resistensi insulin dan gula darah akan menumpuk di dalam darah. Jika dibiarkan terus menerus, maka hal tersebut dapat berbahaya bagi ibu dan bayi. 

Mengutip dari International Diabetes Federation, kondisi Diabetes Gestasional biasanya akan sembuh ketika ibu sudah melahirkan. Namun, tetap saja bahwa hal tersebut dapat memberikan pengaruh jangka panjang pada ibu dan bayi. Jadi, memang harus diperhatikan agar dampaknya tidak berkelanjutan, hingga membutuhkan penanganan yang cukup serius. 

Diabetes Gestasional lebih berisiko terjadi pada perempuan yang berusia 45 tahun ke atas. Kehamilan pada usia ini akan mudah terkena hiperglikemia atau penumpukan glukosa dalam darah. Lebih lanjut, orang yang sudah terkena diabetes tipe ini bisa berlanjut ke Diabetes Tipe 2 dalam kurun masa tertentu setelah kelahiran. Sedangkan untuk anak juga bisa terpapar diabetes di masa depan. 

Tanda-tanda ibu hamil mengalami Diabetes Gestasional bisa diketahui dari beberapa hal. Paling umum adalah rasa haus yang sering, kelelahan, mata kabur, mual, dan infeksi sering kalo terjadi. Ketika ibu sudah mengalami kondisi tersebut, lekas bawa ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang lebig terpercaya. 

Pengelolaan Diabetes Gestasional tiap ibu berbeda-beda. Ada pasien yang bisa membaik dengan mengatur pola makan, mengurangi glukosa, dan olahraga secara teratur, tapi ada juga pasien yang memerluman insulin atau pengobatan lain. Tentunya langkah ini harus didiskusikan langsung bersama dokter yang menangani. 

Diabetes dianggap sebagai sebuah penyakit mematikan yang bisa menjangkit siapa saja, tak peduli latar belakang, status, dan usia. Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikelola agar tidak kambuh dan memperpanjang masa hidup. Gaya hidup sehat haeus diterapkan, seperti pola makan, olahrava teratur, waktu istirahat, serta stres menejemen. Jika memerlukan pertolongan medis, pastikan konsultasikan terlebih dahulh untuk menentukan langkah berikutnya. 

Comments:

Leave a Reply

you may also like

...